Kamis, 08 Mei 2008

SURAT DARI ALLAH

Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepada KU, walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur kepada KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadidalam hidupmu hari ini atau kemarin ......

Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja .......
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk .........

Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama limabelas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU Melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU berfikir engkau akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan kabar terbaru.

AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.

Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKU, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU berikan, tetapi engkau tidak melakukannya ...... masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara kepadaKU, meskipun saat engkau pulang kerumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yg ditampilkan. Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKU .........


Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun namaKU, kau sebut. Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.

AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do'a, pikiran atau syukur dari hatimu.

Keesokan harinya ...... engkau bangun kembali dan kembaliAKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapaKU ........

Tapi yang KU tunggu ........ tak kunjung tiba ...... tak juga kau menyapaKU.

Subuh ........ Dzuhur ....... Ashyar .......... Magrib ........ Isya dan Subuh kembali, kau masih mengacuhkan AKU ..... tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a, dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU ..........

Apa salahKU padamu ...... wahai UmmatKU?????
Rizki yang KU limpahkan, kesehatan yang KU berikan, harta yang KU relakan, makanan yang KU hidangkan, anak-anak yang KUrahmatkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepadaKU............!!!!!!!

Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap berharap suatu saat engkau akan menyapa KU, memohon perlindungan KU, bersujud menghadap KU ...... Yang selalu menyertaimu setiap saat ........

Allah SWT ......


Note:
Apakah kamu memiliki cukup waktu untuk mengirimkan suratini kepada orang lain yang kamu sayangi??? Untuk mengingatkan mereka bahwa segala apapun yang kita terima hingga saat ini, datangnya hanya dari ALLAH semata.


Ya ALLAH ......Ya Tuhan kami , sadarkan kami, jadikan lah DIRI KAMI orang2 yg tau mensyukuri akan nikmatMU.

BAHAGIA MENDIDIK ANAK

Anak adalah amanat Sang Pencipta pada orang tua, keluarga dan masyarakat. Ia harus dibimbing dan dipelihara sebagai aset masa depan. Wajah masa depan sebuah negeri dapat dilihat dari bagaimana kualitas anak-anak masa kini. Saudaraku, yang namanya anak tidak sebatas anak kecil saja, tetapi juga remaja bahkan dewasa sepanjang mereka masih menjadi bagian dari tanggung jawab orang tuanya (baca: belum menikah). Permasalahan anak bukan permasalahan sepele karena menyangkut tanggung jawab kepada Allah Swt. sebagai Pemberi Amanah. Allah Swt. menjadikan anak sebagai ujian bagi kedua orang tuanya sekaligus sebagai anugerah penerus keturunan dan tabungan kebaikan manakala orang tuanya sudah meninggal.

Kedudukan anak sebagai ujian terjadi tatkala orang tua harus berhadapan dengan bagaimana cara memperlakukan, membina dan membimbingnya agar ia tumbuh menjadi bagian dari generasi unggul. Keunggulan di sini meliputi keunggulan secara moral, keilmuan serta fisiknya dan tidak menjadi generasi yang hanya membebani orang lain.

Tanggung jawab ini menjadi ladang bagi ibu-bapak dalam menanamkan akhlak yang baik sebagai landasan bertindak dan berprilaku ke depannya. Karena itu, Islam sangat menekankan arti penting hubungan positif antara anak dengan orang tuanya sebelum yang bersangkutan berhubungan baik kepada dirinya sendiri dan orang lain.

***

Secara umum ada tiga lingkungan yang sangat memengaruhi kualitas mental dan spiritual anak, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial budaya yang berhubungan dengan nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku di masyarakat, termasuk di dalamnya pengaruh televisi, buku dan media massa. Ketiga lingkungan tersebut saling menopang dalam memengaruhi perkembangan dan pembentukan karakter anak. Sebenarnya, lingkungan kedua dan ketiga dapat dikontrol pengaruhnya jika lingkungan pertama yakni orang tua-dalam hal ini keluarga-mampu memaksimalkan perhatiannya terhadap pengasuhan dan pendidikan anak-anak.

Kita sangat paham bahwa anak adalah makhluk aktif yang tengah dalam penjelajahan mencari dunianya. Ia membutuhkan pemandu agar ia tidak salah dalam memilih jalan hidupnya. Pemandu itu tidak lain adalah orang tua dan para pendidik (guru). Karena itu, orang tua ataupun guru, sebagai pendidik normal, perlu memahami bagaimana cara menumbuh kembangkan anak, serta memahami pula teknik-teknik bagaimana berinteraksi dengan anak yang sesuai dengan aqidah dan syariat Islam serta fleksibel dengan tuntutan jaman.

***

Saudaraku, mendidik anak bukanlah sebuah prosedur khusus atau sebuah kursus dengan kurikulum tertentu yang menjadikan anak sebagai peserta wajibnya. Jika cara pandangnya seperti itu, perlakuan kita kepada anak menjadi tidak "manusiawi" lagi. Anak sepertinya harus tumbuh sesuai dengan 'keinginan' orang tua sehingga kreativitasnya terhambat. Padahal setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Masalahnya sekarang, bagaimana para pendidiknya (baca: orang tua dan guru) mampu mendampingi anak menemukan dirinya. Caranya tentu tidak sekaku arena pendidikan formal seperti halnya sebuah kursus, melainkan lewat peristiwa sehari-hari yang mampu memasukkan unsur-unsur pendidikan di dalamnya.

Ada beberapa hal yang dapat kita terapkan saat mendidik anak, di antaranya:
1. Membantu anak berfikir kreatif
Kita bisa melatih anak berpikir kreatid dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu, dan anak diminta untuk memberikan alasan tentang apa-apa yang kita tanyakan. Misal, kenapa kita harus mandi tiap hari. Biarkan anak bereksplorasi dengan jawaban-jawabannya. Jangan menyalahkan jawabannya sekalipun itu salah. Ajaklah anak mengembangkan pikirannya dengan mencari alternatif jawaban lainnya, seperti pertanyaan, "Terus apa lagi?" dan seterusnya.

2. Melatih anak berdiskusi
Ketika anak mengungkapkan sebuah pendapat, ajaklah dia untuk menemukan alasan kenapa ia mengungkapkan hal tersebut. Perlihatkan keingintahuan kita terhadap apa yang diungkapkannya. Tapi jangan menggiringnya pada jawaban yang 'seharusnya' atau diinginkan orang tua, seperti dengan menyudutkannya untuk memberikan alasan yang jelas. Hal tersebut akan mengakibatkan anak mencari alasan yang lain yang bisa menyenangkan (memuaskan) orang tua padahal itu bukan alasannya.

3. Menanamkan kebiasaan membaca
Untuk menumbuhkan minat baca pada anak, kita tidak perlu menunggu dia berumur dua hingga enam tahun. Kita bisa melakukannya saat anak masih berusia empat bulan! Tujuannya tentu bukan agar si anak memahami isi bacaan, akan tetapi merangsang aspek-aspek psikisnya. Bukunya pun lebih yang berbentuk buku bergambar yang berwarna warni dan sedikit kata. Hal tersebut penting untuk merangsang kemampuan kognisi, komunikasi, sosial dan afeksi anak. Keikutsertaan anak memegam buku pun akan membuat ia terlibat secara emosional.

4. Menghindari kesalahan memotivasi anak
Membuat anak bersalah ketika ia tidak berbuat sesuai dengan keinginan orang tua dengan harapan anak termotivasi untuk berbuat lebih baik (baca: menurut orang tua), justru akan membuat anak tidak percaya diri. Demikian juga jika kita membandingkan anak dengan orang lain yang dianggap lebih. Alih-alih termotivasi untuk berbuat seperti orang lain tersebut, anak akan merasakan bahwa dirinya lemah dan tidak berharga. Pendampingan, sikap terbuka dan mau mendengarkan dari orang tua, jauh lebih berharga bagi anak daripada memotivasi dengan cara yang salah.

DOA UNTUK ORANG TUAKU

Ya Allah,

Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka,
Lunakkanlah watakku terhadap mereka,
Dan lembutkanlah hatiku untuk mereka.


Ya Allah,

Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya, atas didikan mereka padaku.
Dan pahala yang besar, atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku.
Peliharalah mereka, sebagaimana mereka memeliharaku.


Ya Allah,

Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku.
Jadikanlah itu semua penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
meningginya kedudukan mereka,
dan bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah.
Sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kebaikan dengan kebaikan berlipat ganda.


Ya Allah,

Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka.
Sehingga kami semua berkumpul bersama dengan santunan-Mu
Di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta rahmat-Mu.

Sesungguhnya Engkaulah yang memiliki Karunia Maha Agung,
Serta anugerah yang tak berakhir
Dan Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.

****

Mari kita kenang dosa kepada orang tua kita. Siapa tahu hidup kita dirundung nestapa karena kedurhakaan kita.
Karena kita sudah menghisap darahnya, tenaganya, airmatanya, keringatnya.

Istighfarlah. Barangsiapa yang matanya pernah sinis melihat orangtuanya.
Atau kata-katanya sering mengiris melukai hatinya, atau yang jarang memperdulikan dan mendoakannya.
Percayalah bahwa anak yang durhaka pada orang tua, maka siksanya akan didahulukan di dunia ini.

KHUSUK DALAM SHOLAT

Seorang ahli ibadah bernama Isam Bin Yusuf, sangat warak dan khusyuk solatnya. Namun, dia selalu khuatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasainya kurang khusyuk.

Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Assam dan bertanya, "Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan sholat?".
Hatim berkata, "Apabila masuk waktu solat, aku berwudhuk zahir dan batin."
Isam bertanya, "Bagaimana wudhuk zahir dan batin itu?"

Hatim berkata, " Wudhuk zahir sebagaimana biasa ia itu membasuh semua anggota wudhuk dengan air". Sementara wudhuk batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :
1. Bertaubat
2. Menyesali dosa yang telah dilakukan
3. Tidak tergila-gilakan dunia
4. Tidak mencari/mengharap pujian orang (riya')
5. Tinggalkan sifat berbangga
6. Tinggalkan sifat khianat dan menipu
7. Meninggalkan sifat dengki."
Seterusnya Hatim berkata, "Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku rasakan aku sedang berhadapan dengan Allah, Syurga di sebelah kananku, Neraka di sebelah kiriku, Malaikat Maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Siratal mustaqim' dan menganggap bahawa sholatku kali ini adalah sholat terakhir bagiku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik."

"Setiap bacaan dan doa dalam solat, ku faham maknanya, kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadhuk, aku bertasyahud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. beginilah aku bersolat selama 30 tahun."

Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

Takabur rakus dan dengki

Ibnu Mas'ud menceritakan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ''Jauhilah olehmu sifat takabur, sebab karena terdorong oleh rasa takabur inilah, maka iblis tidak mau bersujud kepada Adam. Dan, jauhilah sifat rakus, sebab karena itulah sehingga Adam mau memakan buah pohon terlarang. Dan, jauhilah sifat dengki, sebab kedua anak Adam itu seseorang di antara mereka membunuh saudaranya karena terdorong oleh rasa dengki. Semua sifat itu adalah pangkal segala dosa.'' (HR Ibnu 'Asakir).

Hadis di atas memberikan penjelasan yang gamblang bahwa ada tiga sifat manusia yang potensial untuk mengantarkan manusia kepada perbuatan dosa. Sifat ini bermuara pada kehancuran, baik di dunia maupun akhirat.

Pertama, takabur, yakni selalu merasa lebih baik dari yang lainnya. Sebagaimana hadis di atas, sifat ini pertama kali dicontohkan oleh iblis yang tidak mau bersujud kepada Adam.

Allah menjelaskan dalam firman-Nya, ''Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, 'Bersujudlah kamu kepada Adam', maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, 'Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?' Menjawab iblis, 'Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah'.'' (QS 7: 11 - 12).

Kedua, rakus. Sifat ini menyebabkan seseorang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Orang-orang yang memiliki sifat ini tidak peduli apakah harta yang diinginkannya itu milik saudara atau rakyat. Padahal, Allah dengan sangat jelas melarang kita untuk menghalalkan segala cara dalam mencari rezeki. Allah berfirman, ''Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.'' (QS 4: 29).

Ketiga, dengki. Sifat ini selalu merasa tidak senang dengan keberhasilan atau sesuatu yang dimiliki orang lain. Orang seperti ini selalu iri hati dan melihat keberhasilan orang lain dengan pandangan negatif. Bahayanya sifat ini Rasulullah gambarkan seperti api yang membakar kayu bakar. ''Dengki itu memusnahkan kebaikan, sebagaimana api membakar kayu bakar,'' demikian sabdanya sebagaimana diriwayatkan Ibnu Majah. Karena buruknya sifat ini, Allah mengajarkan doa agar kita terhindar dari sifat ini. Doa itu, ''Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.'' (QS 59: 10).

Mari kita jauhi sikap takabur baik entah karena kecerdasan, kekayaan, ketampanan, maupun kesusksesan kita. Kita jauhi sifat rakus akan harta, bahkan rakus akan alokasi waktu dan tenaga untuk bekerja sementara untuk mengkaji Islam dan menjalin silaturahmi seringkali terabaikan. Kita jauhi sikap dengki yang biasanya bermula dari sikap kurang bersyukur dan selalu merasa diri ini paling menderita. Semoga Allah memberikan hidayah dan kekuatan kepada kita untuk menghindarkan diri dari sifat-sifat tersebut.

Takabur

Takabur atau berbangga diri atu bisa juga dikatakan merasa lebih baik dari orang lain adalah sifat yang sangat tercela.Rasulullah pernah bersabda: " Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat takabur walalaupun hanya sebesar biji sawi"

Takabur sendiri banyak macamnya, Menurut Al-Ghazali. sifat takabur dibagi menjadi dua; yaitu takabur dalam urusan agama dan takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan agama juga dibagi dua yaitu takabur ilmu, biasanya menimpa para ilmuwan, ulama; dan yang satu lagi takabur amal, ini biasanya menimpa pada orang2 yang merasa sudah banyak beramal.

Takabur dalam urusan dunia meliputi; Nasab, kekayaan, kecantikan, kekuasaan dan banyaknya anak buah. Tapi hampir sebagian besar takabur yang menimpa manusia selalu disebabkan oleh nasab. Mereka merasa sebagai keturunan yang terhormat, darah biru, keturunan bangsawan dan lain2. Padahal sangat jelaskehormatan Islam tidak ditegakkan dengan nasab tetapi seperti firman Allah QS:Al Hujurat:13: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa"

Dari ayat di atas jelas terlihat bahwa apapun tidak berarti dihadapan Allah kecuali takwa. Ada sebuah kisah pernah seseorang mendatangi rasul dengan membanggakan nasabnya. Orang itu memperkenalkan dirinya dengan menyebut silsilah orang tuanya sampai keturunan kesembilan. Rasulullah pada saat itu hanya menjawab pendek: "Dan engkau keturuna yang kesepuluh yang masuk neraka". Dia masuk neraka karena ketakaburannya.

Beda dengan kisah kedua. Ali Zainal "Abdin pernah menangis terisak-isak di hadapan Baitullah. Ada seseorang yang mendekatinya dan bertanya' Mengapa engkau harus beribadah seperti ini, bukankah kakekmu rasulullah SAW dan ibumu Fathimah? PAda saat itu juga Ali Zainal "abidin dengan marah menjawab," Jangan sebut2 di hadapanku ibuku dan kakekku, karena AllahSWT akan memberikan surga kepada siapa saja yang taat kepadaNYA, walaupun dia adalah seorang budak dari Afrika. Dan Allah akan memasukkan neraka siapa saja yang bermaksiat kepadaNYA walalupun dia dalah bangsawan terhormat dari bangsa Quraisy.

Dari dua kisah di atas kita dapat menarik kesimpulan alangkah rendahnya orang yang selalu membanggakan nasabnya, karena di hapan Allah itu tidak berarti apa2. begitu juga orang yang beranggapan dia lebih mulia dalam hal apapun dibanding orang lain.

Ali binAbi Thalib mengajarkan cara agar kita dijauhkan dari takabur; Kalau kau berjumpa dengan orang yang lebih muda berpikirlah dalam hatimu, pasti dosanya lebih sedikit. Kalau kau berjumpa dengan orang yang lebih tua, berpikirlah pasti amalnya lebih banyak dari amalmu.

Mudah2an kita semua dijauhkan dari sifat takabur, karena sifat itu dimiliki oleh iblis dan diungkapkan pertama kali pada saat dia diperintahkan sujud oleh Allah kepada Adam. Mari kita jaga diri kita dari sifat takabur walalupun sebesar biji sawi , karena itu yang akan membawa kita ke dalam neraka.


MENGOBATI TAKABUR

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk, tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat : "Bersujudlah kamu kepada Adam ", maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak , temasuk golongan yang bersujud. Allah berfirman : "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab Iblis : Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman : "Turunlah kamu dari durga ini; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya kamu termasuk mahluk yang hina".

alah satu penyakit hati yang dapat menutup jalannya hidayah Allah kepada kita adalah takabur. Penyakit ini bisa melanda seluruh lapisan masyarakat, dari yang kaya sampai yang miskin, orang alim dan bodoh, yang muslim maupun non muslim, dll.

Sombong adalah watak utama dari Iblis, seperti yang bergambar pada ayat di atas. Sifat sombong memang bisa hinggap pada siapapun, namun yang lebih dominan adalah mereka yang mempunyai banyak potensi. Manusia yang hanya diberi ilmu sedikit saja oleh Allah, sudah dianggap dirinya paling pandai. Sehingga segalanya dikaitkan dengan otaknya. Filsafat mulai berperan serta dalam memecahkan masalah-masalah agama. Padahal Allah swt berfirman : "Dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan hanya sedikit saja" (QS. Al-Isra : 85)

Manusia yang hanya diberi sedikit harta, sudah merasa dialah pemilik segalanya. Setelah itu timbullah keinginan untuk berkuasa karena hartanya, akhirnya lahirlah manusia tipe Qarun. Kemanapun ia pergi sandarannya adalah harta. Dalam hal ini Allah swt berfirman : "Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya, ketika mereka berbincang-bincang : "Hartaku lebih banyak dan pengikutku lebih kuat". (QS. Al-Kahfi :34)

Semakin banyak potensi pada diri seseorang, maka harus semakin waspadalah dia terhadap sifat sombong.

Inti penyakit sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Untuk penyembuhan penyakit takabur tidak ada obatnya kecuali yang datang Pemilik Yang Maha Segalanya. Allah swt telah memberi resep obat untuk mengobati penyakit ini kepada Nabi Musa as. Nabi Musa nyaris terhinggap penyakit ini pada saat ditanya oleh pengikutnya : "Ya guru, siapakah orang yang paling pandai di muka bumi ini ? Beliau menjawab : "Akulah orangnya". Pada saat itu Allah langsung menegurnya dan diperintahnya untuk mencari seorang hamba Allah yang shaleh dipertemuan dua lautan. Kisah inilah yang oleh sebagian musafir disebut sebagai proses pendidikan (tarbiyah), kisah Nabi Musa yang bertemu dengan Nabi Khaidir dan menyandarkan kembali hakekat dirinya. Dari kisah yang terangkum dalam QS. Al-Kahfi ayat 60 s/d 82 itu tergambar ibrah (pelajaran) bagi kita, bahwa tarbiyah adalah suatu proses pendidikan yang tidak terbatas pada ilmu, melainkan juga mencakup masalah kerja. Ia merupakan proses yang menyeluruh, meliputi aliyah ruhiyah dan jasadiyah.

Ada beberapa ibrah dari kisah ini, yaitu :

  1. Proses tarbiyah yang dilakukan nabi Musa berguru kepada Nbi Khaidir. Ia berguru kepadanya walaupun tempat dan orangnya belum diketahui. Artinya, cara yang paling efektif mentarbiyah diri adalah dengan mencari guru yang dapat membentuk seluruh kepribadian kita. Di sinilah terjadi interaktif antara guru dan murid dan amal.

  2. Pencarian yang kontinyu. Sebagaimana firman-Nya : "Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya : "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai aku akan berjalan bertahun-tahun" ( QS. Al-Kahfi : 60)

      Dalam proses ini harus ditanamkan sikap kesungguhan dalam pencarian. Artinya

niatnya tak luntur oleh kesulitan yang menghadang. Seperti halnya kesungguhan Salman Al-Farisi dalam mencari kebenaran adalah ibrah bagi kita. Berkali-kali mencari guru yang dapat membawanya kepada yang hak, sampai nabi Muhammad saw di padang pasir.

Semakin tinggi tingkat pencarian, insya Allah akan semakin nyata pula hasilnya. Sedang tahapan dalam proses pencarian adalah sebagaimana Allah nyatakan dalam Al-Quran "Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk dapat pelajaran) sedang ia takut kepada Allah…" (QS.’Abasa: 8-9)

Ada 3 bahasan dalam ayat di atas :

  1. Datang

    Orang yang akan melaksanakantarbiyah harus mau datang ke tempat di mana proses tarbiyah itu berlangsung. Dalam pepatah dikatakan : "Barang siapa bersungguh-sungguh, ia pasti dapat". Dengan datangnya ke tempat tarbiyah menunjukkan perhatian yang penuh kepada tarbiyah. Lain halnya dengan orang yang mencari ilmu dengan hanya menunggu dirumah, maka hasilnyapun akan menuntut kita menunggu dan menunggu.

  2. Bersegera

    Tingkat kesungguhan seseorang terhadap tarbiyah dapat dilihat dari upayanya atau setidaknya dalam proses mencari. Untuk mencapai tujuan, ada orang yang berjalan cepat, tapi tak sedikit orang yang berjalan dengan santai. Orang yang mempercepat langkahnya tentu akan lebih cepat pula sampai ke tujuan. Di samping menunjukkan kesungguhan.

  3. Takut

    Dorongan atau motivasi seseorang untuk datang dengan segera kepada tarbiyah dapat bermacam-macam. Akan tetapi Allah menegaskan hanya ada satu alasan yang pantas, yaitu rasa takut kepada Allah. Dengan motivasi inilah ikatannya dengan tarbiyah adalah ikatan ukhrawi yang kekal, ia bukan terikat dengan hal-hal duniawi. Pada hakekatnya, proses pencarian tarbiyah adalah amanah Allah. Manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, diwajibkan untuk melakukan ibadah kepada Allah.

Seluruh pancaindranya, penghayatan hatinya, kemampuan berpikirnya tidak untuk digunakan dalam hal yang lain kecuali untuk di jalan-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak demikian. Dalam hal ini Allah swt berfirman : "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tabda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai" (QS. AlAraf : 179)

Jauhi, Dua Perilaku Orang Takabur!

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah pada kedua ibu bapak, karib kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong lagi membanggakan diri. (QS An-Nisa': 36)

Takabur (sombong) adalah penyakit hati yang sangat dibenci Allah. Orang takabur, hakikatnya tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Ia mengaku-ngaku sesuatu yang bukan miliknya. Yang Mahabesar dan berhak takabur hanyalah Allah SWT.

Takabur bagaikan bagaikan bau busuk yang sulit sekali disembunyikan. Orang yang mengidap penyakit ini sangat mudah dilihat oleh orang awam sekali pun, serta mudah dirasakan hati siapa pun.

Apa ciri orang takabur itu? Rasulullah SAW bersabda, "Kesombongan adalah mendustakan kebenaran dan merendahkan orang lai."

(HR Muslim)

Mendustakan kebenaran
Meremehkan agama. Orang sombong hidupnya jauh dari agama. Ia memiliki kebenaran versinya sendiri, sehingga tidak menyukai orang-orang shalih. Tidak mau dan tidak menyempatkan belajar agama. Waktunya tersita untuk mencari dunia dan memuaskan hawa nafsu.

Malas beribadah. Ada saja alasan untuk tidak beribadah. Tidak menyukai nasehat berkaitan dengan kebenaran. Tidak mau ingat dan taat pada Allah. Meremehkan dan tidak mau meneladani para nabi. Dia lebih suka meniru idolanya sendiri.

Tidak percaya pada hal-hal gaib. Tidak mau dekat dengan orang shalih kecuali kalau ada maunya. Bila kesombongannya sudah memuncak, ia akan memusuhi agama dan akan melakukan pelbagai cara agar sinar agama meredup. Bila ia punya kekuasaan, maka kekuasaan itu akan dipakai menumpas kebenaran.

Merendahkan Orang Lain
Ingin selalu kelihatan lebih tinggi. Ingin selalu diistimewakan. Ia akan tersinggung bila disamakan dengan orang yang levelnya dianggap lebih rendah. Suka mendominasi pembicaraan, senang memotong perkataan orang lain, nadanya pun cenderung lebih keras dan merendahkan yang mendengar. Ia pun selalu ingin menang sendiri saat bicara.

Kurang suka mendengarkan orang lain. Bila orang lain berbicara dan pembicaranya dianggap lebih rendah levelnya, dia tak akan mau memperhatikan. Ada saja yang dilakukannya: ngobrol, menelpon, atau lainya. Akibatnya, orang yang bicara merasa direndahkan.

Kalau ia menyuruh, maka yang disuruh akan sakit hati. Cara duduk, berdiri, dan menunjuk pun cenderung tidak menghormati orang lain

Mudah marah dan kasar. Sering menghina, mencaci maki. Jarang sekali mau memuji dan mengakui kelebihan orang lain. Jarang berterima kasih. Tidak mau meminta maaf. Pantang menerima kritik dan saran. Tidak suka bermusyawarah. Tidak mau mengakui kesalahan atau kekurangan. Sering dengki pada yang lain.

Semoga Allah memberikan kekuatan pada kita untuk menghindari ketakaburan sekecil apa pun. Amin.