Senin, 03 Maret 2008

Ayat ayat Birul walidain

Kita pahami dengan sepenuh hati, bahwa kita wajib berbuat baik kepada kedua orang tua dan durhaka kepada keduanya adalah haram. Namun terkadang ketika sedang konflik dengan orang tua atau dalam kondisi-kondisi lainnya, kita sering melupakan hal ini. Untuk itu, agar mengingatkan kembali bagaimana kedudukan kedua hal ini (wajib dan haramnya), kami bawakan peringatan-peringatan dan ancaman-ancaman dari Allah dalam Al-Qur'an.

Allah memerintahkan dalam Al-Qur'an agar berbakti kepada kedua orang tua. Mengenai wajibnya seorang anak berbakti kepada orang tua, Allah berfirman di dalam surat Al-Isra' ayat 23-24.

"Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya 'ah' dan janganlah kamu membentak keduanya" [Al-Isra : 23]
"Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, "Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil" [Al-Isra : 24]

Juga An-Nisa ayat 36.

"Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukanNya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat kepada anak-anak yatim kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan dirinya" [An-Nisa : 36]

Juga terdapat dalam surat Luqman ayat 14-15.

"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali" [Luqman : 14]
"Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik dan ikuti jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu maka Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu kerjakan" [Luqman : 15]

Atau seperti yang tercantum dalam surat Al-Ankabut ayat 8, tidak boleh mematuhi orang tua yang kafir kalau mengajak kepada kekafiran.

"Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" [Al-Ankabut : 8]

Serta surat Al-Ahqaaf ayat 15-16.

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdo'a "Ya Rabb-ku, tunjukilah aku untuk menysukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" [Al-Ahqaaf : 15]
"Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka" [Al-Ahqaaf : 16]

Sedangkan tentang anak durhaka kepada kedua orang tuanya terdapat di dalam surat Al-Ahqaaf ayat 17- 20.

"Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, 'Cis (ah)' bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku ? lalu kedua orang tua itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan, "Celaka kamu, berimanlah ! Sesungguhnya janji Allah adalah benar" Lalu dia berkata, "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu" [Al-Ahqaaf : 17]
"Mereka itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan (adzab) atas mereka, bersama-sama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi" [Al-Ahqaaf : 18]
"Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) apa yang telah mereka kerjakan sedang mereka tidak dirugikan" [Al-Ahqaaf : 19]
"Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), "Kamu telah memhabiskan rizkimu dalam kehidupan duniawi dan kamu telah bersenang- senang dengannya maka pada hari ini kamu dibalas dengan adzab yang menghinakan. Karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak, dan karena kamu telah berbuat fasik" [Al-Ahqaaf : 20]

Sedangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 215

"Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang mereka infakkan. Jawablah, "Harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapakmu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu perbuat sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" [Al-Baqarah : 215]

Banyak sekali ayat-ayat di dalam Al-Qur'an yang menerangkan tentang wajibnya berbakti kepada kedua orang tua. Dalam surat Luqman, Allah menyebutkan wajibnya seorang anak berbakti kepada kedua orang tua dan bersyukur kepadanya serta disebutkan juga tentang larangan mengikuti orang tua jika orang tua tersebut mengajak kepada syirik.


Batasan Birul Walidain

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al Isra: 23-24)

Dalam ayat pembuka diatas, Allah SWT telah menegaskan bagaimana kita harus bersikap terhadap orang tua kita. Sungguh, pengorbanan orangtua kita adalah hutang. Begitu mulia Islam mengajarkan penghormatan kepada orangtua.

Beruntunglah bagi siapapun yang orangtuanya masih ada, karena bila orangtua sudah tiada, kita tidak bisa lagi membahagiakan mereka di sisa usianya. Kita harus memiliki tekad yang kuat untuk berbakti pada orang tua. Minimal, kita berhenti dari menyakiti hati orang tua hingga tidak ada lagi luka yang ditoreh di hatinya.

Syukur bila kita sudah bisa menyenangkannya dan diberkahi manfaat besar bagi dunia dan akhiratnya. Menghormati orangtua bukan hanya dengan memberinya harta, yang lebih penting adalah akhlak kita, sebagai anaknya.

Apalah artinya anak kaya, bergelar, berpangkat, tetapi tak berakhlak baik kepada ibu bapaknya? Dan akhlak inilah sebenarnya kekayaan termahal yang bisa membuat sang anak doanya diijabah oleh Allah, sehingga bisa menyelamatkan dan memuliakan ibu bapaknya..

Kita tidak bisa mengharapkan sosok ibu atau bapak seideal seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW dan istri beliau. Tapi, kita justru harus mencari kelebihan-kelebihan mereka untuk kita syukuri.

Bagaimanapun keadaan orangtua kita, darah dagingnya melekat pada diri kita. Jika mereka belum shalih dan shalihah, kita yang harus meminta pada Allah agar orangtua kita mendapat hidayahNya.

Selain itu, kita juga harus melihat unsur-unsur di dalam berbakti kepada orang tua kita, diantaranya: Pertama, seorang anak hendaknya menjaga dan memelihara ucapannya di hadapan orang tua, terlebih bagi mereka yang sudah berusia lanjut, jangan sampai perkataan atau perbuatannya menyinggung perasaan keduanya.

Kedua, sikap bahasa tubuh seorang anak tidak boleh membusungkan dada terhadap orang tua melainkan merendahkan diri kepada keduanya dengan penuh kasih sayang.

Ketiga, kita harus patuh pada orang tua kita selama tidak bertentangan dengan perintah Allah. Dan Keempat, kita tetap berkewajiban berbakti kepada orang tuasetelah mereka meninggal, antara lain dengan cara selalu mendo’akan dan menyambung tali silaturrahim dengan kerabat dan teman-teman orang tua selagi masih hidup.


Birul Walidain Siapa dulu?

Islam adalah agama yang adil yang menempatkan hak dan kedudukan manusia sesuai dengan keadaannya. Termasuk dalam hal berbakti kepada kedua orang tua. Sudah sangat jelas bahwa peran ibu lebih besar dari pada peran ayah. Namun seorang ayah juga memiliki peranan penting terhadap anak. Lalu bagaimana pembagian hak kedua orang tua secara terperinci menurut agama yang telah sempurna ini?

Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta'alaa berfirman :

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a,
"Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

Ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga tidak bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. 1

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak.

Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, "Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ibumu!' Ia bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ibumu!', Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi, 'Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Bapakmu' " 2

Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-Kabair berkata :

"Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.
Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo'akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau menhdahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
Padahal Allah telah melarangmu berkata 'ah' dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul 'Aalamin. Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10:
"(Akan dikatakan kepadanya), 'Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya".

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, "Itu belum bisa membalas". Kemudian juga beberapa riwayat 3 disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. "Kamu dan hartamu milik bapakmu" 4




Catatan Kaki

...1
[Lihat Tafsir Ibnu Katsir]
...2
[Hadits Riwayat Bukhari (Al-Ftah 10/401) No. 5971, Muslim 2548]
...3
Shahih Ibnu Majah No. 1855
...4
[Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas'ud, Lihat Irwa'ul Ghalil 838]


Birul walidain Jane Piye

Berkaitan dengan birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua) dan keutamaannya yang sangat tinggi. Namun demikian, segala ajaran itu tentu ada batasannya. Untuk itu kami angkat permasalahan yang cukup sering kita jumpai yaitu saat orang tua menyuruh hal yang bertentangan, salah satunya untuk bercerai.

Apabila kedua orang tua menyuruh anak untuk menceraikan istrinya, apakah harus ditaati atau tidak? Dibawah ini dibawakan beberapa hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam, diantaranya yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Abu Dawud.

"Dari sahabat Abdullah bin Umar berkata : "Aku mempunyai seorang istri serta mencintainya dan Umar tidak suka kepada istriku. Kata Umar kepadaku, 'Ceraikanlah istrimu', lalu aku tidak mau, maka Umar datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menceritakannya, kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku, 'Ceraikan istrimu'" 1

Hadits kedua diriwayatkan oleh Abu Darda.

"Dari Abu Darda Radhiyallahu 'anhu bahwa ada seorang datang kepadanya berkata, "Sesunggguhnya aku mempunyai seorang istri dan ibuku menyuruh untuk menceraikannya. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Orang tua itu adalah sebaik-baik pintu surga, seandainya kamu mau maka jagalah pintu itu jangan engkau sia-siakan maka engkau jaga" 2

Hadist ini dijadikan dalil oleh sebagian ulama bahwa seandainya orang tua kita menyuruh untuk menceraikan istri kita, wajib ditaati. 3

Ini terjadi bukan hanya pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam saja tetapi juga pada zaman Nabi Ibrahim 'Alaihis Shalatu wa sallam. Ketika Ibrahim 'Alaihi Shalatu wa sallam berkunjung ke rumah anaknya -Ismail 'Alaihi salam- dan anaknya saat itu tidak ada di tempat, kemudian Ibrahim berkata kepada istri Ismail 'Alaihi Salam, "Sampaikan pada suamimu hendaklah dia mengganti palang pintu ini".

Ketika Ismail datang, istrinya mengatakan bahwa ada orang tua yang datang menyuruh ganti palang pintu. Ismail kemudian mengatakan bahwa orang tua yang datang itu adalah ayahnya yang menyuruh menceraikan istrinya. 4

Sebagian ulama yang lain mengatakan jika orang tua kita menyuruh menceraikan istri tidak harus diataati. 5

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang seseorang yang sudah mempunyai istri dan anak kemudian ibunya tidak suka kepada istrinya dan mengisyaratkan agar menceraikannya, Syaikhul Islam berkata, "Tidak boleh dia mentalaq istri karena mengikuti perintah ibunya. Menceraikan istri tidak termasuk berbakti kepada Ibu" 6

Ada orang bertanya kepada Imam Ahmad, "Apakah boleh menceraikan istri karena kedua orang tua menyuruh untuk menceraikannya?" Dikatakan oleh Imam Ahmad, "Jangan kamu talaq". Orang tersebut bertanya lagi, "Tetapi bukankah Umar pernah menyuruh sang anak menceraikan istrinya ?" Kata Imam Ahmad, "Boleh kamu taati orang tua, jika bapakmu sama dengan Umar, karena Umar memutuskan sesuatu tidak dengan hawa nafsu" 7

Permasalahan mentaati perintah orang tua ketika diminta untuk menceraikan istri, sudah berlangsung sejak lama. Oleh karena itu para imam (aimmah) sudah menjelaskan penyelesaian dari permasalahan tersebut. Pada zaman Imam Ahmad (abad kedua) dan zaman Syaikhul Islam (abad ketujuh) permasalahan ini sudah terjadi dan sudah dijelaskan bahwa tidak boleh taat kepada kedua orang tua untuk menceraikan istri karena hawa nafsu.

Kecuali jika istri tidak taat pada suami, berbuat zhalim, berbuat kefasikan, tidak mengurus anaknya, berjalan dengan laki-laki lain, tidak pakai jilbab (tabaruj/memperlihatkan aurat), jarang shalat dan suami sudah menasehati dan mengingatkan tetapi istri tetap nusyuz (durhaka), maka perintah untuk menceraikan istri wajib ditaati. Wallahu 'Alam




Catatan Kaki

...1
[Hadits Riwayat Abu Dawud 5138, Tirmidzi 1189, dan Ibnu Majah 2088]
...2
[Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan hadits ini Hasan Shahih]
...3
[Nailul Authar 7/4]
...4
[Hadits Riwayat Bukhari no. 3364 (Fathul Baari 6/396-398)]
...5
[Masaail min Fiqil Kitab wa Sunnah hal. 96-97]
...6
[Majmu' Fatawa 33/112]
...7
[Masail min Fiqil Kitab wa Sunnah hal. 27]

Pemimpin sejati

Rame-rame soal pemimpin masa depan negeri ini kayaknya udah jadi bahan perbincangan kita-kita juga deh. Obrolan seputar calon presiden mendadak jadi menu sehari-hari kita. Soalnya pemilu dan pemilihan presiden langsung udah diambang pintu. Yang jelas waktunya deketan banget ama pestanya kaum penggila bola. Itu sebabnya nggak heran dong kalo sampe dibahas di media cetak maupun elektronik. Malah sampe dibuat polling segala: �Siapa calon presiden yang paling anda sukai?

Sobat muda muslim, mau nggak mau kita juga kudu ngeh yang satu ini. Emang sih itu udah wilayahnya politik. Tapi apa kita salah ngomong politik? Remaja juga kudu sadar politik dong. Biar kita bisa tahu masalah apa aja yang sedang dihadapi masyarakat kita. Kalo kamu nongkrongnya di MTV doang, maka kamu cuma ngeh kehidupan selebriti. Itu pun sebatas mu-sik dan lagu. Paling banter soal gaya hidupnya. Padahal, masalah kita nggak cuma kudu ngeh soal itu, tapi seluruh persoalan kehidupan lengkap dengan jawabannya. Tul nggak?

BTW, ngomongin calon pemimpin masa depan negeri ini nggak lepas dari yang namanya intrik politik. Bahkan sebetulnya dalam sistem kehidupan yang ada sekarang, lebih mengarah kepada pertarungan memperebutkan kekuasa-an untuk mempertahankan kepentingan individu dan gengnya. Itu pun always berbalut niatan dapetin yang namanya duit. Maklumlah, siapa sih yang nggak nelen ludah kalo bicara urusan tahta dan harta. Betul?

Kalo pun ada yang punya niat agak mendingan seperti yang diusung partai politik yang mengaku berbasis Islam, tapi itu juga kalah bersaing. Bahkan ikut-ikutan tenggelam dalam hiruk-pikuk politik tak bermoral' yang jadi trademark negara-negara yang mengamalkan kapitalisme. Jadinya, wes ewes ewes bablas cita-citane! Keciaan deh luh!

Sobat muda muslim, punya pemimpin yang oke segala-galanya emang udah jadi impian kita selama ini. Sebagai remaja muslim yang peduli terhadap masa depan umat, punya harapan seperti ini tentunya wajar dan bahkan kudu. Kita udah lelah banget dengan kondisi kehidupan sekarang. Suer, kriminalitas kian marak, kasus kejahatan seksual juga makin menumpuk nggak bisa diselesaikan, ekonomi awut-awutan, urusan politik udah kayak benang kusut. Pokoknya, lengkap sudah penderitaan kita. Bahkan mungkin sepertinya bakalan langgeng. Walah?

Tapi, selesaikah persoalan dan langsung dapet jawaban kalo kita punya pemimpin yang baik dan oke segalanya? Cukupkah perjuangan kita sebatas ikutan polling rame-rame via SMS atau website untuk milih partai dan calon presiden yang disukai, sekaligus diharapkan jadi kebanggaan kita? Jalan masih panjang sobat. Bahkan kita harusnya mikirin juga akar masalah yang mendera negeri ini.

Hadirnya pemimpin yang baik emang salah satu upaya kita menyelesaikan masalah. Tapi masalah utama-nya adalah seberapa pantas sistem kapitalisme ini mengatur kehidupan se-buah masyarakat dan negara? Ehm, sa-yangnya kita ku-du bilang bahwa sistem buatan ma-nusia ini udah nggak laku lagi. Buktinya nggak becus ngurus kehidupan. Tengok deh, di negeri ini aja sejak pemimpin yang pertama sampe yang sekarang, selalu kolaps dengan sukses! Jadinya, buat apa dipake terus kalo udah terbukti USG alias Usahanya Selalu Gagal?

Oke deh, mari kita obrolin kriteria pemimpin sejati yang selama ini kita impikan. Tapi tentunya jangan tinggalkan obrolan kita tentang sistem kehidupan yang mengatur masyarakat dan negara ini. Sebab, selama sistem kapitalisme-dengan demokrasinya-masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, maka hadirnya pemimpin sejati cuma mimpi kali yee?

Kesalahan bukan pada orangnya

Emang ada dua kemungkinan yang bakalan muncul saat kita obrolin sistem dan operatornya. Bisa dua-duanya yang kacau balau. Bisa pula salah satunya yang error. Untuk mengetesnya tak terlalu sulit kok, asal kita udah punya manualnya yang berisi prosedur standar mengoperasikan sistem itu dan siapa aja yang bisa dan boleh meng-operasikannya. Beres.

Ambil contoh kalo kamu pake komputer. Komputer sehat. Berdasarkan prosedur stan-dar pengoperasian yang oke alat tersebut mampu menjalankan berbagai program yang kita inginkan. Pendek kata, bisa membantu menyelesaikan tugas-tugas kita. Duh, asyik banget tuh bisa nyenengin kita-kita.

Tapi manakalah kamu nggak bisa mengoperasikan sesuai prosedur, alamat komputer bakalan rusak bro. Misalnya aja, waktu matiin tuh komputer, kamu langsung nyabut kabel powernya. Atau lebih parah lagi karena kamu nggak ngeh (maklum kebiasaan orang Indonesia tuh katanya sih males baca manual guide), malah tuh komputer dimatiinnya pake karung basah karena nggak tahu caranya shut down (emangnya kompor yang kebakaran?)

Itu artinya komputer nggak masalah, tapi operatornya yang error. Sebaliknya, jika kamu udah bisa malah mahir mengoperasikan komputer, ternya-ta sang mesin nggak bisa bekerja. Misalnya aja pada keyboardnya ha-nya tombol �Ctrl�, �Alt�, dan �Del� yang berfungsi. Sisanya nggak bisa diguna-kan. CPU nggak bisa idup karena nggak ada power suply-nya. Ditambah mo-nitornya nggak ada tombol �on-off�-nya. Wah, itu jelas alatnya yang bobrok euy!

Tapi.. bisa juga dua-duanya yang kacau balau lho. Komputer error, orangnya juga always tulalit. Klop. Bahaya tuh. Nah, ngomongin sistem kapitalisme-dengan demo-krasinya, itu sama aja ngomongin komputer rusak van butut. Orang yang pinter segimana pun nggak bakalan bisa mengoperasikan. Dan tentunya nggak berguna untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang kita hadapi. Padahal kita butuh segera jawabannya. Celakanya lagi, jika orang yang mengoperasikannya juga error, wah, tambah parah dah! Gubrakzzz

Sobat muda muslim, kamu perlu tahu bahwa sistem kapitalisme, dengan alat politiknya yang bernama demokrasi, adalah sistem kehidupan buatan manusia yang so pasti subur dengan kelemahan. Sistem berbalut akidah sekularisme ini udah bikin seluruh manusia sengsara.

Paradigma alias model pola sekularisme yang lahir dari sebuah proses kompromi telah memberikan suatu anggapan bahwa manusia adalah tuan bagi dirinya sendiri. Agar manusia dapat menjadi tuan bagi dirinya sendiri, maka manusia, menurut paradigma sekularisme, harus dijauhkan dari segala pengawasan pihak lain (agama/Tuhan). Hal ini tidak akan bisa terealisasi kecuali jika manusia diberikan kebebasan dan dilepaskan dari segala ikatan. Dari sini, lahirlah kemudian ide kebebasan (liberalisme) yang selanjutnya menjadi sesuatu yang inheren alias melekat erat dan udah jadi tabiat khas dalam ideologi Kapitalisme.

Dari ide kebebasan ini, pada gilirannya, lahirlah konsep demokrasi; sebuah konsep yang menghendaki manusia steril dari intervensi pengaturan pihak lain (baca: agama atau Tuhan), sekaligus menghendaki agar manusia diberikan kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri. Duilee.. sampe segitunya...

Kaum sekularis selalu menganggap bahwa kebahagiaan manusia terletak pada keber-hasilannya memperoleh sebanyak mungkin kesenangan dan kelezatan duniawi. Wajar jika kemudian kemaslahatan (menurut akal mereka) merupakan tujuan utama dari setiap per-buatan yang dilakukannya. Celakanya, banyak kaum muslimin, temasuk anak mudanya, yang tergoda dengan paham ini. Inilah akibat paling menyakitkan dari serangan pemikiran dan budaya yang dilancarkan Barat. Ehm.. KDKK deh (KDKK: Kejarlah Demokrasi Kau Ketipu) Keciaan deh!

Jadi kalo menginginkan pemimpin sejati, maka sistem kehidupannya wajib diganti dengan sistem Islam dulu dong. Islam yang di-terapkan sebagai ideologi negara. Biar klop. Sebab, kalo nyari pemimpin sejati tapi masih setuju en betah dibingkai dengan sistem kapitalisme, termasuk yang nyari pemimpin sejati lewat jalur sistem sosialisme-komunisme, itu cuma khayalan kata Mbak Oppie Andaresta atau mimpi kali yee kata SCTV. Suer.

Pemimpin sejati dalam sistem sejati

Yup, pemimpin sejati cuma ada dalam bingkai sistem yang sejati pula. Islam, amat identik antara agama dan negara. Nggak bisa dipisahkan. Itu sebabnya disebut ideologi.

Imam al-Ghazali menuliskan: �Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.� (dalam kitabnya, al-Iqtishad fil I'tiqad hlm. 199)

Senada dengan Imam al-Ghazali, Ibnu Taimiyah juga menyatakan: �Jika kekuasaan terpisah dari agama, atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.� ( Majmu'ul Fatawa juz 28 hlm. 394)

Nah, sejalan dengan prinsip Islam bahwa agama dan negara itu tak mungkin dipisahkan, juga tak mengherankan bila kita dapati bahwa Islam telah mewajibkan umatnya untuk mendirikan negara sebagai sarana untuk menjalankan agama secara sempurna. Negara itulah yang terkenal dengan sebutan Khilafah atau Imamah.

Syekh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Nizhamul Hukmi fil Islam mendefinisikan Khilafah sebagai kepemimpinan umum bagi se-luruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum Syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Seluruh imam madzhab dan para mujtahid besar tanpa kecuali telah bersepakat bulat akan wajibnya Khilafah (atau Imamah) ini. Syaikh Abdurrahman al-Jaziri menegaskan �Para imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi�i, dan Ahmad) �rahimahumullah� telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) itu wajib adanya, dan bahwa ummat Islam wajib mempunyai seorang imam (khalifah,) yang akan meninggikan syiar-syiar agama serta menolong orang-orang yang tertindas dari yang menindasnya...� (dalam kitab al-Fiqh �Ala al-Madzahib al Arba'ah, jilid V, hlm. 416)

Jadi jelas, pemimpin sejati hanya bisa dihasil-kan dari sistem yang sejati pula kebenarannya. Cuma Islam yang benar. Yang lain? Lewaaat!

Allah Swt berfirman:

�Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.� (QS al-Maaidah [5]: 3]

Sobat muda muslim, mulai sekarang kita kampanyekan Islam sebagai ideologi negara yang akan diterapkan dalam bingkai negara Khilafah Islamiyah. Pemimpin sejati insya Allah akan lahir dari sana. Percayalah. Yuk, kita sama-sama berjuang. Salam kehancuran ideologi kapitalisme! Salam kehancuran ideologi sosialisme-komunisme! Salam kebangkitan ideologi Islam!

Sudahkah silaturahmi?


Kata 'silaturahmi' berasal dari dua kata, silah (yang menghubungkan, jembatan, atau ikatan yang kokoh) dan rahim (rasa sayang, kasih mengasihi). Sehingga ketika digabung memiliki makna yang kuat, yakni tali persaudaraan, jembatan kasih sayang, hubungan kasih yang kokoh.
Namun makna yang lebih populer dari silaturahmi (asal kata silaturahim) adalah tali persaudaraan. Ekstrak dari kata itu terletak pada kata 'rahim' memiliki akar kata yang sama dengan rahman dan rahim, yakni sifat Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Silaturahmi merupakan ibadah sosial yang apabila disandingkan dengan ibadah ritual, seringkali memiliki nilai yang jauh lebih baik dari ibadah ritual. Hal ini terekam dari berbagai kisah Rasulullah saw. dengan para sahabat.
Abdullah bin Abi Awfa bercerita: "Kami waktu itu sedang berkumpul bersama Rasululah saw. Tiba-tiba beliau berkata: "Janganlah duduk bersamaku hari ini orang yang memutuskan persaudaraan." Dengan segera seorang pemuda berdiri meninggalkan majelis Rasulullah.
Rupanya sudah lama anak muda itu bertengkar dengan bibinya. Ia lalu meminta maaf kepada bibinya dan bibinya pun memaafkannya. Setelah itu, barulah ia kembali kepada majelis Nabi. Nabi saw. berkata: "Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang disitu ada orang yang memutuskan persaudaraan. "(at-Taghrib 3: 345, Islam Aktual, Jalaluddin Rakhmat).
Perhatikanlah keluarga kita, lapisan sosial yang paling kecil. Bila di dalamnya ada beberapa anggota keluarga yang sudah tidak saling bertegur sapa, sudah saling menjauhi, apalagi kalau di belakang saling menohok dan memfitnah, maka rahmat Allah akan dijauhkan dari seluruh anggota keluarga itu.
Kemudian, perhatikan umat Islam Indonesia, kaum yang lebih luas, organisasi-organisasi Islam atau bahkan partai-partai islam. Bila di dalamnya masih ada kelompok yang mengafirkan kelompok yang lain, menjelekkan satu sama lain, bahkan saling memfitnah, atau membentuk jamaah tersendiri dan mengasingkan diri dari jamaah yang lain, atau tidak mau shalat jamaah dengan kelompok yang pendapatnya berbeda, maka seluruh umat akan terputus dari rahmat Allah. Sukarlah umat yang seperti itu akan memperoleh kemenangan.

"Maukah kalian aku tunjuki amal yang lebih besar pahalanya dari shalat dan puasa?" tanya Rasulullah saw. kepada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Rasulullah menjawab, "Engkau damaikan orang-orang yang bertengkar."

Menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang berpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam dan mengukuhkan ukhuwwah diantara mereka, adalah amal saleh yang besar pahalanya. "Barang siapa yang ingin diperpanjang usianya dan dimudahkan rezekinya, maka hendaklah ia menyambungkan persaudaraan." (HR Bukhori dan Muslim)
Abu Dzar adalah sahabat yang sangat dikasihi Nabi. Ialah orang pertama yang mengucapkan salam Islam di zaman jahiliyah. Ia pernah menahan rasa hausnya, walaupun kantong air ia gantungkan di pinggangnya dan baru akan meminum air itu, setelah Rasulullah saw. meminumnya.
Ia dipuji Nabi sebagai sahabat yang lidahnya paling jujur. Ia hidup begitu sederhana dan bergabung dengan para sahabat lain yang sederhana. Islam telah mengubah masa lalunya sebagai pemberontak menjadi masa kininya sebagai pejuang.
Banyak nasihat Nabi saw. kepada Abu Dzar. Salah satu diantaranya adalah: "Kekasihku Nabi saw. yang mulia, berwasiat kepadaku beberapa hal yang baik: Ia berwasiat agar aku tidak memandang orang yang di atasku dan hendaknya memandang orang yang di bawahku. Ia mewasiatkan kepadaku untuk menyambungkan persaudaraan walaupun dengan orang yang menjauhiku. Ia mewasiatkan kepadaku untuk tidak takut kepada kecaman orang yang mengecam dalam menegakkan agama Allah. Ia mewasiatkan kepadaku untuk mengatakan yang benar walaupun pahit. Dan akhirnya ia mewasiatkan kepadaku untuk memperbanyak bacaan la haula wala quwwata illa billah, karena kalimat itu termasuk perbendarahaan surga." (HR Tabrani dan Ibnu Hibban, at-Taghrib 3:

Minggu, 02 Maret 2008

Memelihara Hati

“Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”. (HR. Muslim)

Inilah karakter ruh dan jiwa manusia, ia adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang perselisihannya adalah sumber bencana dan kelemahan. Jiwa adalah tentara Allah yang sangat setia, ia hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan Yang Menciptakanya,. Allah berfirman yang artinya:

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 8:63)

Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk mempertemukannya selain ikatan akidah dan keimanan. Imam Syahid Hasan Al Banna berkata:“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran”. (Risalah Ta’lim, 193)

Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi karena Allah hati akan bertemu, hanya dengan membangun jalan ketaatan hati akan menyatu, hanya dengan meniti di jalan dakwah ia akan berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan kalimat Allah dalam panji-panji jihad fi sabilillah ia akan saling erat bersatu. Maka sirami taman persaudaraan ini dengan sumber mata air kehidupan sebagai berikut:

1. Sirami dengan mata Air Cinta dan Kasih sayang

Kasih sayang adalah fitrah dakhil dalam jiwa setiap manusia, siapapun memilikinya sungguh memiliki segenap kebaikan dan siapapun yang kehilangannya sungguh ditimpa kerugian. Ia menghiasi yang mengenakan, dan ia menistakan yang menanggalkan. Demikianlah pesan-pesan manusia yang agung akhlaqnya menegaskan. Taman persaudaraan ini hanya akan subur oleh ketulusan cinta, bukan sikap basa basi dan kemunafikan. Taman ini hanya akan hidup oleh kejujuran dan bukan sikap selalu membenarkan. Ia akan tumbuh berkembang oleh suasana nasehat menasehati dan bukan sikap tidak peduli, ia akan bersemi oleh sikap saling menghargai bukan sikap saling menjatuhkan, ia hanya akan mekar bunga-bunga tamannya oleh budaya menutup aib diri dan bukan saling menelanjangi. Hanya ketulusan cinta yang sanggup mengalirkan mata air kehidupan ini, maka saringlah mata airnya agar tidak bercampur dengan iri dan dengki, tidak keruh oleh hawa nafsu, egoisme dan emosi, suburkan nasihatnya dengan bahasa empati dan tumbuhkan penghargaannya dengan kejujuran dan keikhlasan diri. Maka niscaya ia akan menyejukkan pandangan mata yang menanam dan menjengkelkan hati orang-orang kafir (QS.48: 29).

2. Sinari dengan cahaya dan petunjuk jalan

Bunga-bunga tamannya hanya akan mekar merekah oleh sinar mentari petunjuk-Nya dan akan layu karena tertutup oleh cahaya-Nya. Maka bukalah pintu hatimu agar tidak tertutup oleh sifat kesombongan, rasa kagum diri dan penyakit merasa cukup. Sebab ini adalah penyakit umat-umat yang telah Allah binasakan. Dekatkan hatimu dengan sumber segala cahaya (Alquran) niscaya ia akan menyadarkan hati yang terlena, mengajarkan hati yang bodoh, menyembuhkan hati yang sedang sakit dan mengalirkan energi hati yang sedang letih dan kelelahan. Hanya dengan cahaya, kegelapan akan tersibak dan kepekatan akan memudar hingga tanpak jelas kebenaran dari kesalahan, keikhlasan dari nafsu, nasehat dari menelanjangi, memahamkan dari mendikte, objektivitas dari subjektivitas, ilmu dari kebodohan dan petunjuk dari kesesatan. Sekali lagi hanya dengan sinar cahaya-Nya, jendela hati ini akan terbuka. “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci”. (QS. 47:24)

3. Bersihkan dengan sikap lapang dada

Minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar ( mementingkan orang lain dari diri sendiri) demikian tegas Hasan Al Banna. Kelapangan dada adalah modal kita dalam menyuburkan taman ini, sebab kita akan berhadapan dengan beragam tipe dan karakter orang, dan “siapapun yang mencari saudara tanpa salah dan cela maka ia tidak akan menemukan saudara” inilah pengalaman hidup para ulama kita yang terungkap dalam bahasa kata untuk menjadi pedoman dalam kehidupan. Kelapang dada akan melahirkan sikap selalu memahami dan bukan minta dipahami, selalu mendengar dan bukan minta didengar, selalu memperhatikan dan bukan minta perhatian, dan belumlah kita memiliki sikap kelapangan dada yang benar bila kita masih selalu memposisikan orang lain seperti posisi kita, meraba perasaan orang lain dengan radar perasaan kita, menyelami logika orang lain dengan logika kita, maka kelapangan dada menuntut kita untuk lebih banyak mendengar dari berbicara, dan lebih banyak berbuat dari sekedar berkata-kata. “Tidak sempurna keimanan seorang mukmin hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya”. ( HR. Bukhari Muslim)

4. Hidupkan dengan Ma’rifat

Hidupkan bunga-bunga di taman ini dengan berma’rifat kepada Allah dengan sebenar-benar ma’rifat, ma’rifat bukanlah sekedar mengenal atau mengetahui secara teori, namun ia adalah pemahaman yang telah mengakar dalam hati karena terasah oleh banyaknya renungan dan tadabbur, tajam oleh banyaknya dzikir dan fikir, sibuk oleh aib dan kelemahan diri hingga tak ada sedikitpun waktu tersisa untuk menanggapi ucapan orang-orang yang jahil terlebih menguliti kesalahan dan aib saudaranya sendiri, tak ada satupun masa untuk menyebarkan informasi dan berita yang tidak akan menambah amal atau menyelesaikan masalah terlebih menfitnah atau menggosip orang. Hanya hati-hati yang disibukkan dengan Allah yang tidak akan dilenakan oleh Qiila Wa Qaala (banyak bercerita lagi berbicara) dan inilah ciri kedunguan seorang hamba sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah apabila ia lebih banyak berbicara dari berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih banyak berangan-angan dan bermimpi dari beraksi dan berkontribusi. “Diantara ciri kebaikan Keislaman seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia”. ( HR. At Tirmidzi).

5. Tajamkan dengan cita-cita Kesyahidan

“Pasukan yang tidak punya tugas, sangat potensial membuat kegaduhan” inilah pengalaman medan para pendahulu kita untuk menjadi sendi-sendi dalam kehidupan berjamaah ini. Kerinduan akan syahid akan lebih banyak menyedot energi kita untuk beramal dari berpangku tangan, lebih berkompetisi dari menyerah diri, menyibukkan untuk banyak memberi dari mengoreksi, untuk banyak berfikir hal-hal yang pokok dari hal-hal yang cabang. “Dan barang siapa yang meminta kesyahidan dengan penuh kejujuran, maka Allah akan menyampaikanya walaun ia meninggal diatas tempat tidurnya”. ( HR. Muslim)

“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah bersatu berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dijalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahay-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”.

Amin…