Senin, 04 April 2011

Mutiara Hikmah

• Ada dua perkara yang jika Anda Amalkan, Anda akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat: Menerima sesuatu yang tidak Anda sukai, jika sesuatu itu disukai Allah. Dan membenci sesuatu yang Anda sukai, jika sesuatu itu dibenci oleh Allah.”
(Abu Hazim)
• Ada enam perkara, apabila dimiliki oleh seseorang maka telah sempurnalah keimanannya : (1) memerangi musuh Allah dengan pedang, (2) tetap menyempurnakan puasa walaupun di musim panas, (3) tetap menyempurnakan wudhu walaupun di musim dingin, (4) tetap bergegas menuju mesjid (untuk melaksanakan shalat berjama’ah) walaupun di saat mendung, (5) meninggalkan perdebatan dan berbantah-bantahan walaupun ia tahu bahwa ia berada di pihak yang benar dan (6) bersabar saat ditimpa musibah.”
(Yahya bin Muadz)
• Ada tiga golongan orang yang paling menyesal pada hari kiamat : (1) orang yang memiliki budak ketika di dunia, ternyata pada hari kiamat budak tersebut memiliki prestasi amal yang lebih baik darinya, (2) orang yang mempunyai harta tetapi tidak mau bersedekah dengannya sampai ia meninggal dunia, kemudian harta tersebut diwarisi oleh orang yang memanfaatkan harta tersebut untuk bersedekah di jalan Allah, dan (3) orang yang mempunyai ilmu tetapi ia tidak mau mengambil manfaat dari ilmunya, lalu ilmu tersebut diketahui oleh orang lain yang mampu mengambil manfaat darinya.”
(Sufyan bin ‘Uyainah)
• Akhlak yang paling mulia adalah menyapa mereka yang memutus silaturahim, memberi kepada yang kikir terhadapmu, dan memaafkan mereka yang menyalahimu.”
(HR Ibnu Majah)
• Aku belum pernah melihat orang yang paling lama bersedih daripada al-Hasan. Ia berkata, kita tertawa, sementara bisa jadi Allah yang telah melihat amal-amal yang telah kita perbuat berfirman, ‘Aku tidak mau menerima amal-amal kalian sedikitpun.’”
(Yunus bin ‘Ubaid)
• Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.”
(HR Abu Daud)
• Aku menangis bukan karena takut mati atau karena kecintaanku kepada dunia. Akan tetapi, yang membuatku menangis adalah kesedihanku karena aku tidak bisa lagi berpuasa dan shalat malam.”
(‘Amir bin ‘Abdi Qais)
• Aku tidak suka menjadi seorang pedagang budak. Akan tetapi, menjadi pedagang budak lebih aku sukai daripada aku menimbun bahan makanan sambil menunggu naiknya harga yang memberatkan sesama muslim.”
(Yazid bin Maisaroh)
• Amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Jika amal itu ikhlas tapi tidak benar, maka tidaklah diterima. Jika amal itu benar tapi tidak ikhlas, juga tidak akan diterima kecuali jika dilakukan secara ikhlas. Ikhlas artinya dilakukan hanya karena Allah. Adapun benar artinya adalah sesuai dengan sunnah (tuntunan dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).”
(Fudhail bin ‘Iyadh)
• Apa pendapat Anda bila ada seseorang yang pakaiannya terkena air kencing, lalu ia hendak mensucikannya dengan air kencing pula? Mungkinkah air kencing itu dapat mensucikannya? Tentu saja tidak! Kotoran tidak dapat disucikan kecuali dengan sesuatu yang suci. Begitu pula halnya keburukan yang pernah kita lakukan, tidak akan dapat terhapus kecuali dengan memperbanyak melakukan kebaikan.”
(Sufyan ats-Tsauri)
• Apabila akhirat ada dalam hati, maka akan datanglah dunia menemaninya. Tapi apabila dunia ada di hati maka akhirat tidaklah akan menemaninya. Itu karena akhirat mulia dan dermawan, sedangkan dunia adalah hina”
(Abu Sulaiman Ad Daroni)
• Apabila Anda berharap agar Allah senantiasa menganugerahkan kepada Anda apa-apa yang Anda cintai dan sukai maka hendaklah Anda senantiasa menjaga dan melaksanakan apa-apa yang dicintai dan disukai oleh Allah.”
(Salah seorang ahli hikmah)
• Apabila kalian senang Allah ta’ala dan Rasul-Nya mencintai kalian, maka tunaikanlah amanah kalian, dan benarlah jika berbicara, dan bertetanggalah dengan baik kepada tetangga kalian.”
(HR Imam Suyuthi)
• Ayahku pernah mengatakan bahwa apabila ‘Ali bin al-Husain selesai berwudhu dan telah bersiap untuk shalat, tubuhnya akan gemetar dan menggigil. Pernah ada seorang lelaki yang bertanya kepadanya tentang hal itu, maka ‘Ali bin al-Husain menjawab, ‘Celakalah Engkau! Tidakkah kau tahu, kepada siapa aku akan menghadap? Dan kepada siapa aku akan bermunajat?’”
(al-’Utaibi)

Kasiat Sodaqoh

Sabda Nabi Muhammad saw: “Shadaqah yang dikeluarkan seseorang dari tangannya, benar-benar telah sampai ke ‘Tangan’ Allah bahkan sebelum tangan orang yang minta shadaqah itu menerima. Shadaqah itu membilang kepada orang yang mengeluarkannya dengan lima kalimat. Pertama, ‘Aku hanyalah sesuatu yang kecil tapi berubah jadi besar karena kau shadaqahkan. Ke dua, ‘Aku hanyalah sesuatu yang sedikit, tapi karena kau shadaqahkan aku berubah jadi banyak. Ke tiga, ‘Aku tidak lebih musuhmu sebelum di-shadaqahkan, lalu kau rombak diriku menjadi temanmu.’ Ke empat, ‘Aku hanyalah benda yang lekas rusak lalu kau membikinku kekal.’ Ke lima, ‘Sebelum kau shadaqahkan, engkau jaga diriku dari pencuri. Namun sejak sekarang, akulah yang akan menjagamu dari api neraka. {Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib} JA’FAR bin Muhammad tuturkan dari Abi Muhammad kisah berikut ini. Pulang dari menghadap Rasulullah saw, memasuki ambang pondoknya Ali bin Abi Thalib lihat Fatimah duduk bekerja menenun shuff, kain wol kasar. Istrinya itu hampir selesaikan pekerjaan yang dipesan Salman al Farisi. Di luar tembok, Salman –sahabatnya- meregang ujung kain shuff yang ditenun Fatimah. Ali berkata kepada istrinya, “Ya wanita mulia. Adakah yang engkau miliki untuk hidangan makan suamimu ini?” Fatimah menjawab, “Suamiku, aku tidak memiliki sesuatu untuk bersantap. Tapi ini, aku ada uang enam dirham, upah pekerjaanku menenun kain shuff pesanan Salman. Sesungguhnya uang ini semula hendak kubelikan makanan untuk Hasan dan Husain.” Ali berkata kemudian, “Istriku. Biarkan aku yang pergi membeli makanan untuk Hasan dan Husain.” Fatimah pun serahkan uang enam dirham itu kepada suaminya. Ali lalu berangkat ke pasar. Perjalananan Ali ke pasar. Ia bertemu seorang lelaki sepuh, berdiri rapuh berkata-kata. “Siapa yang sedia beri pinjaman kepada Allah, Dzat Yang Maha Melindungi dan Maha Mencukupi? Sampaikanlah pinjaman itu melaluiku.” Demi mendengar itu Ali menghampiri lelaki sepuh dan langsung serahkan uang enam dirham padanya. Ali urung membeli makanan untuk anak-anaknya. Ia pulang. Di rumah. Melihat suaminya pulang tanpa membawa makanan untuk anak-anak, Fatimah menangis. Ali lembut bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, istriku?” Fatimah menyahut, “Ya putra paman Rasulullah saw. Kulihat kepulanganmu hampa, bukankah kepergianmu tadi hendak membeli makanan buat anak-anak kita?” Ali menjelaskan, “Wahai wanita mulia. Uangmu enam dirham tadi aku berikan sebagai pinjaman kepada Allah. Shadaqah” Istrinya tersenyum menyambut, “Baiklah.” Ali lalu pamit akan menghadap Rasulullah saw lagi. Perjalanan menuju rumah Rasulullah saw. Di tengah perjalanan Ali bertemu seorang Badui penuntun onta. Orang itu menawarkan sesuatu, “Wahai ayahnya Hasan. Belilah ontaku ini.” Ali berkata, “Aku tidak memiliki uang.” Badui itu malah menawarkan kemudahan, “Padamu aku jual onta ini dengan pembayaran belakangan.” Ali bertanya, ”Berapa engkau jual onta ini?” Badui itu tersenyum menentukan harganya. “Seratus dirham saja, bayarlah belakangan.” Ali setuju, “Baik, kubeli ontamu dengan harga dan syarat yang kau tentukan.” Badui yang menjual onta berlalu. Ali sekarang yang menuntun onta. Tidak berselang lama datang Badui lain menghampiri Ali. Ia mencari onta, “Wahai ayahnya Hasan. Apa ontamu ini engkau jual?” Ali menyambut, “Benar. Aku bermaksud menjualnya.” Badui itu sangat berminat, “Berapa harga onta ini hendak engkau jual, Ali?” Ali menawarkan harganya, “Tiga ratus dirham.” Badui langsung merasa cocok harga, “Baik, kubeli ontamu dengan kontan.” Ali menerima pembayaran lalu belanja makanan dan pulang ke rumah. Menghadap kepada Rasulullah saw nanti setelah kuserahkan makanan ini kepada anak-anak, rencana Ali. Di rumah Ali. Fatimah menyongsong kepulangan suaminya, “Apa yang engkau bawa itu, wahai ayahnya Hasan?” Ali menerangkan. “Wahai Fatimah. Aku tadi beli seekor onta seharga seratus dirham dari seorang Badui yang boleh kubayar belakangan. Baru saja onta kubawa datang Badui lainnya lagi yang mau membelinya tiga ratus dirham dengan kontan.” Usai menyerahkan makanan untuk keluarganya, Ali pamit akan menghadap Rasulullah saw. Di pondok Rasulullah saw, beliau membalas salam dan menyambut kedatangan Ali dengan senyum agungnya. Ali dipersilakan duduk di sisi beliau. Rasulullah saw bersabda. “Wahai ayahnya Hasan. Adakah seseuatu khabar yang akan engkau sampaikan untukku. Atau aku saja yang beritakan khabar padamu?” Ali menjawab, “Sebaiknya Rasulullah saw yang sampaikan khabar. Sungguh engkau yang lebih pantas memberitahuku, ya Utusan Allah.” Rasulullah saw bersabda, “Wahai Ali. Adakah engkau tahu siapa sebenarnya orang Badui yang menjual onta padamu. Dan siapa pula orang Badui yang membeli onta darimu tadi?” Ali menunduk, “Allah dan Utusan-Nya yang lebih mengetahui yang terjadi padaku.” Rasulullah saw bersabda, “Wahai ayahnya Hasan. Engkau sungguh beruntung. Engkau telah beri shodaqoh kepada seorang lemah enam dirham, sama halnya engkau memberi pinjaman kepada Allah. Enam dirham itu Allah kembalikan padamu tiga ratus dirham. Berarti setiap dirhammu dikembalikan Allah lima puluh kali lipat. Ketahuilah, wahai Ali. Orang Badui pertama adalah malaikat Jibril yang menymar. Ia menyaru menjadi orang Badui yang menjual onta. Sedang orang Badui ke dua yang membeli onta darimu itu malaikat Israfil.”
AYAT-AYAT AL-QURAN TENTANG KOMPETISI DALAM KEBAIKAN


Standar Kompetensi :
1. Memahami ayat-ayat Al Qur’an tentang Kompetisi dalam kebaikan.

Kompetensi Dasar :
1.1. Membaca Q. S. Al Baqarah; 148, Q.S. Al Fatir; 32.
1.2. Menjelaskan arti Q. S. Al Baqarah; 148, Q.S. Al Fatir; 32
1.3. Menampilkan perilaku berkompetisi dalam kebaikan seperti terkandung dalam Q. S. Al Baqarah; 148, Q.S. Al Fatir; 32.

TARTILAN

Bacalah ayat-ayat berikut dengan tartil dan renungkanlah maknanya serta perhatikan adab dan sopan santun membaca Al Qur’an.


• Q. S. Al Baqarah ayat 148




• Q.S. Al Fatir, 32-33









• Q.S. Al Alaq; 1-5











1. Bacaan dan Penjelasan Tajwid
 Bacalah ayat berikut dengan tartil dan fasih. Kemudian salin kembali dengan benar dan baik.






 Penjelasan Tajwid
Lafal Hukum Bacaan Cara membaca Alasan


Idgam bigunnah Walikulliw wijhatun
dibaca terpadu Tanwin kasrah bertemu dengan wau



Izhar
Wijhatun huwa Tanwin dummah bertemu ha’




Mad thabi’i
Maa takuunuu Fathah menghadap alif mati dan dum-mah menghadap wau mati



Mad ‘iwad Jamii’aa
( dibaca panjang 2 harakat ) Tanwin fathah di-waqofkan berubah jadi fathah saja



Gunnah
inna
Nun bertasydid


 Kegiatan Siswa
Lafal Pernyataan Hukum bacaan Cara membacanya


Alif lam mengadap kha’
........
.........


Mim fathah menghadap alif mati
.....
.........


Lam kasroh menghadap ya’ mati


Lam jalalah sebelumnya fathah


......
......



Mad menghadap ra’ yang diwaqofkan
......
......


2. Terjemahan Per-kata



kebaikan


maka berlom-lombalah kamu


menghadap kepadanya


ia


Tujuan / kiblat


dan bagi tiap-tiap orang



semuanya


Allah



dengan kalian


Dia mendata-ngkan


kalian



dimana saja kamu berada



Maha kuasa


sesuatu


segala


atas


Allah


sungguh



3. Terjemahan ayat
Terjemahan Q.S. Al Baqarah, 2 : 148 adalah :
Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Dimana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

4. Kandungan
o Setiap umat mempunyai kiblat / syariat atau aturan masing-masing. Bagi umat Islam kiblatnya adalah Ka’bah sebagai pusat menghadap ketika salat.
o Kaum muslimin hendaknya giat beribadah, beramal, bekerja, dan berlomba-lomba dalam kebaikan.
o Pada hari Kiamat nanti Allah SWT akan mengumpulkan setiap umat manusia. Pada saat itu, manusia akan diadili dengan seadil-adilnya tentang perbuatan yang mereka lakukan ketika di dunia. Manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah mereka kerjakan. Pada saat itu pula akan diketahui siapa di antara mereka yang paling benar dan paling baik amalnya.

5. Penjelasan
Qur’an Surat Al Baqarah terdiri dari 286 ayat diturunkan di Madinah yang sebagian besar diturunkan pada permulaan tahun Hijriyah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Haji Wada’ (haji Nabi Muhammad s.a.w. yang terakhir). Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk ayat Madaniyah, merupakan surat yang terpanjang diantara surat-surat Al qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang, yakni ayat 282. Surat ini dinamai surat “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil ( lihat : ayat 67 – 74 ), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya. Surat Al Baqarah dinamai pula surat Fusthaatul Qur’an artinya puncak Al Qur’an karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Pada surat Al Baqarah 148 dijelaskan bahwa manusia di alam ini telah terjadi golongan-golongan dimana mereka telah meyakini kebenaran aturan dan syare’atnya masing-masing seperti : golongan Islam, Nasrani, Yahudi, Budha, Hindu dan umat lainnya. Namun bagi umat Islam haruslah yakin bahwa syare’at Islam adalah syare’at yang benar karena kebenaran syare’at Islam itu telah ditetapkan kebenarannya oleh Allah dan dinyatakan agama yang paling benar pula sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Ali Imran : 19 yang artinya :”Sesungguhnya agama (yang diridoi ) di sisi Allah hanyalah Islam”. Pada ayat lain Q.S. Ali Imran ayat 85 juga dijelaskan yang artinya :”Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang rugi”.
Kata kiblat berarti arah yang dituju umat Islam dalam melaksanakan ibadah salat. Namun kiblat bisa diartikan sebagai syari’at, agama, undang-undang atau peraturan yang dijalani oleh manusia.
Ada sejarah umat Islam yang dahulunya menghadap kiblat ke Baitul Maqdis di Yerussalem ketika melaksanakan ibadah salat. Kemudian beralih ke Baitullah Ka’bah di Makkah setelah mendapatkan perintah Allah yang tercantum dalam Q.S. Al Baqarah ayat 144 yang artinya : “Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit (berdo’a dan menunggu-nunggu turunnya wahyu), maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palinglah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palinglah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”.
Umat Islam dan umat manusia pada umumnya diperintahkan untuk berlomba- lomba berbuat kebajikan yaitu melakukan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat untuk kesejahteraan umat manusia baik lahiriyah maupun bathiniah, seperti berlomba-lomba mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran hidup di dunia, bukan sebaliknya yang digunakan untuk menyengsarakan atau mengancam kelangsungan kehidupan manusia.
.





1. Bacaan dan Penjelasan Tajwid
 Bacalah ayat berikut dengan tartil dan fasih. Kemudian salin kembali dengan benar dan baik.





 Penjelasan Tajwid
Lafal Hukum Bacaan Cara membaca Alasan



Gunnah Tsumma
( dibaca dengung ) Mim bertasydid



Izhar Min ‘ibaadinaa
( nun mati dibaca jelas)
Nun mati bertemu ‘ain



Idghom bilagunnah
Zalimullinafsihi (dibaca terpadu gengan lam ) Tanwin dummah menghadap lam



Idgahom Mutamassilain Waminhum muqtasidun
( dibaca terpadu ) Mim mati meng-hadap mim



Izhar Syafawi Waminhum muqtasidun
( mim mati dibaca
jelas)
Mim mati mengha-dap sin



Qalqalah
Muqqtasidun
( qaf dibaca mantul ) Qaf yang berharo-kat sukun



 Kegiatan Siswa
Lafal Pernyataan Hukum bacaan Cara membacanya


Nun fathah menghadap alif sukun
........
.........


Mim mati menghadap dlo
.....
.........


Tanwin dommah menhadap wau mati


Tanwin dommah bertemu ba’
......
......


Mad thabi’i menghadap ra’ yang diwaqofkan
......
......


2. Terjemahan Per-kata



diantara


Kami pilih


orang-orang yang


Kitab



Kami wariskan


kemudian



pertengahan


dan dianta-ra mereka


pada diri-nya sendiri


zalim / aniaya


maka diantara mereka
hamba-hamba Kami



demikian itu



Allah


dengan izin


dengan berbuat baik


mendahului


Dan diantara mereka





yang besar


karunia


ia

3. Terjemahan ayat
Terjemahan Q.S. Faatir, 35 : 32 adalah :
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri; ada yang pertengahan; dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan *) dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.

*) menzalimi diri sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, dan “ pertengahan “ ialah orang yang kebaikannya berbanding sama dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan “ orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan” ialah orang-orang yang kebaikannya sangat banyak dan sangat jarang berbuat kesalahan.

4. Kandungan
o Allah SWT mewariskan Kitab suci Al Qur’an kepada hamba-hambanya yang terpilih yaitu umat Islam.
o Sikap umat Islam terbagi menjadi tiga golongan, yaitu 1). golongan yang mengamalkan agamanya, tetapi juga masih lebih banyak berbuat kejahatan/buruk; 2) golongan yang dalam pertengahan yaitu amal kebajikannya berbanding dengan amal keburukannya; 3) golongan selalu berbuat kebajikan sehiangga dalam beramal selalu mendahulukan kebajikan dan menghindarkan berbuat jahat/dosa.
o Golongan umat Islam yang senantiasa dapat beramal baik yang lebih banyak, mereka itulah yang mendapatkan karunia besar dari Allah SWT.

5. Penjelasan
Qu’an surat Faatir terdiri atas 45 ayat, termasuk golongan surat-surat Makiyah, diturunkan sesudah surat Al Furqan. Kata Faatir berarti “ pencipta “ ada hubungannya dengan perkataan “ Faatir “ yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Pada ayat tersebut bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Pencipta malaikat-malaikat, Pencipta semesta alam yang semuanya itu adalah bukti atas kekuasaan dan kebesaran-Nya.
Maksud kelompok dholimun linafsihi atau kelompok yang menganiaya diri itu adalah kelompok yang mengaku beragama Islam tetapi lebih banyak melakukan perbuatan kejahatan dan dosa dari pada kebaikannya. Kelompok ini adalah termasuk golongan yang merugi, nanti di akherat akan ditempatkan di neraka dan akan memperoleh siksa karena perbuatan dosanya. Namun setelah mereka disiksa sesuai dengan kesalahan dan dosanya, mereka akan mendapatkan ampunan dari Allah karena keimanannya sehingga dikeluarkan dari api neraka. Hal ini berdasarkan hadis Rosulullah yang artinya :” akan keluar dari neraka siapa saja yang mengucapkan LAAILAAHA ILLALLAH, sedangkan dalam hatinya (hanya) ada kebaikan sebesar debu” (H.R. Buchori – Muslim, dan Tirmidzi)
Maksud kelompok muqtashid yakni, kelompok yang ada dipertengahan adalah kelompok umat Islam yang perbuatan baiknya sebanding dengan perbuatan jahatnya. Kelompok ini akan ditempatkan di A’raf yaitu tempat antara surga dan neraka. Kemudian beberapa waktu yang telah ditetapkan Allah golongan ini lalu dimasukkan ke dalam surga.
Sedangkan kelompok saabiqun bil khoirooti adalah kelompok umat Islam yang lebih dahulu berbuat kebajikan, mereka gemar berbuat kebaikan, tidak mau berbuat kejahatan atau dosa. Kelompok ini akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat. Di akherat akan ditempatkan di surga Adn dengan segala fasilitas-fasilitasnya, seperti yang diterangkan dalam Q.S. Al Fathir ayat 33 yang artinya : “(Bagi mereka) surga Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiyasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya dari sutera”


KEGIATAN SISWA

 Diskusikan dengan teman-temanmu bagaimana sikap dan perilaku orang yang tergolong kelompok sabiqun bilkhairat itu.
 Coba identifikasi perilaku golongan orang yang zalim terhadap dirinya sendiri.
 Coba renungkan apa manfaat dan hikmah yang dapat dipetik bagi kelompok orang yang dapat beramal saleh lebih banyak dari pada kejahatan/dosanya.

RANGKUMAN
• Surah Al Baqarah,2 : 148 berisi bahwa setiap umat itu mempunyai kiblat, aturan dan syari’ah masing-masing. Allah SWT menyuruh kepada semua manusia untuk memilih agama yang paling benar ( Islam ) dan disuruh beribadah, beramal, bekerja dan berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.

• Kandungan Q.S. Faatir, 35 : 32 adalah menerangkan tentang adanya tiga golongan umat Islam sebagai pewaris Kitab Al Qur’an yaitu golongan yang menganiaya dirinya sendiri, golongan yang ada dalam pertengahan, golongan yang lebih dahulu berbuat kebajikan. Kelompok yang lebih dahulu berbuat kebaikan tentu akan mendapat karunia dari Allah baik di dunia maupun di akherat.

UJI KOMPETENSI
A. Aspek afektif
Isilah pernyataan-pernyataan berikut sesuai dengan sikapmu yang sebenarnya dengan cara mencontreng ( √ ) pada kolom yang tersedia

INTERNALISASI AKHLAK MULIA
No Pernyataan setuju tidak setuju tidak tahu alasan
1 Memberikan kasih sayang, rasa …… …… ….. ……
hormat dan bantuan kepada fakir miskin adalah kewajiban kita bersama.
2 Berlomba-lomba dalam berbuat …… …… ….. ……
kebajikan merupakan perbuat-an terpuji.
3 Muslim / muslimat yang sering …… …… ….. ……
berbuat dosa besar termasuk orang yang menganiaya diri.
4 Umat Islam yang perbuatan - …… …… ….. ……
perbuatan baiknya sebanding dengan perbuatan jahatnya ia lebih dahulu akan ditempatkan di neraka.
5 Umat Islam yang perbuatan- ….. …. …. …..
perbuatan baiknya lebih ba-nyak dari perbuatan dosanya maka ia akan masuk surga.

B. Aspek kognitif
1). Soal pilihan ganda
Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar dengan cara menyilang (X) pada huruf a,b,c,d, atau e.
1. Berikut ini adalah termasuk huruf-huruf qalqalah. Adapun yang tidak termasuk di dalamnya adalah…
a. ﺪ d. ﺥ
b. ﻖ e. ﺐ
c. ﻄ
2. Dalam Q.S. Al Baqarah, 2 : 148 terdapat lafal , yaitu tanwin fathah yang diwaqofkan, termasuk bacaan…..
a. mad thabi’i d. mad wajib muttasil
b. mad ‘iwad e. mad jaiz
c. mad ‘arid

3. Dalam Q.S. Al Baqarah, 2 : 148 terdapat lafal artinya adalah…
a. dimana saja kamu berada
b. pasti akan mengumpulkan
c. maka berlomba-lombalah kamu dalam kebajikan
d. dan bagi tiap-tiap umat itu ada kiblat / syari’at masing-masing
e. janganlah kamu sekalian berbuat boros

4. Berikut ini termasuk perilaku Muslim/Muslimat yang mengamalkan kandungan Q.S. Al Baqarah, 2 : 148. Adapun yang tidak termasuk di dalamnya adalah…
a. jika salat menghadap ke Baitullah
b. ikut lomba pelajar berprestasi
c. berlomba-lomba dalam mencari rezeki yang halal
d. berlomba memperlihatkan amal kebajikan kepada orang lain
e. berlomba dalam mewujudkan lingkungan rumah yang bersih dan indah

5. Kitab-kitab Allah itu akan diwariskan kepada…
a. manusia siapa sja yang menghendaki
b. orang yang mau mempelajarinya
c. orang-orang yang pandai dan berbudi luhur
d. orang yang dipilih dari hamba-hamba-Nya
e. orang yang miskin tapi berakhlak mulia

6. Q.S. Faatir adalah salah satu surat yang terdapat dalam Kitab Al Qur’an, yaitu surat yang ke 35. Kata Faatir mempunyai arti…
a. pencipta d. binatang ternak
b. sapi betina e. tempat tertinggi
c. malam hari

7. Dalam Q.S. Faatir, 35 : 32 ada lafal ada tanwin dummah bertemu lam, bacaan tajwidnya adalah...
a. Izhar c. idghom bigunnah e. ikhfa’ syafawi
b. Ikhfa’ d. iqlab

8. Yang dimaksud dengan golongan muqtashid dalam Q.S. Faatir, 35 : 32 adalah...
a. golongan orang-orang yang menganiaya diri sendiri
b. golongan orang-orang yang suka melakukan kerusakan
c. golongan orang-orang yang berbuat kebajikan dan juga berbuat dosa
d. golongan orang-orang yang suka berbuat kejahatan
e. golongan orang-orang yang gemar berbuat kebajikan

9. Orang yang bersegera melakukan amal kebajikan akan memperoleh imbalan Surga “ Adn “ . pernyataan itu dijelaskan dalam Al Qur’an…
a. Surat Al Baqarah ayat 149 d. Surat Al Fatir ayat 33
b. Surat Al Baqarah ayat 148 e. Surat Al Alaq 1 - 5
c. Surat Al Fatir ayat 32

10. Perilaku umat Islam yang mencerminkan golongan “ saabiqun bil khairat” adalah…
a. ketika terdengar suara azan segera menunaikan salat
b. ketika terdengar bel berbunyi segera masuk kelas dan belajar
c. ketika datang bulan ramadhan segera berpuasa
d. ketika melihat orang yang sengsara bersegera menolongnya
e. ketika melihat uang yang tercecer segera mengambilnya


2). Soal Uraian
Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan benar!
1. Jelaskan kandungan Q.S. Al Baqarah ayat 148 !

2. Sebutkan usaha-usaha yang dapat dilakukan bagi umat Islam agar menjadi umat yang terbaik!

3. Jelaskan bagaimana sikap dan perilaku orang yang dholimun linafsihi ! Dan bagaimana nasib di akheratnya!

4. Jelaskan sikap dan perilaku orang yang tergolong sabiqun bilkhoirati ! Dan apa keberuntungannya di akherat !

5. Berilah gambaran perilaku golongan muqtashid dan bagaimana nasib di akheratnya !


Kelas XI semester gasal


AYAT-AYAT AL-QURAN TENTANG PERINTAH MENYANTUNI KAUM DHU’AFA


Standar Kompetensi :
2. Memahami ayat-ayat Al Qur’an tentang perintah menyantuni kaum dhu’afa.

Kompetensi Dasar :
2.1. Membaca Q. S. Al Isra’, 26 – 27, dan Q.S. Al Baqarah; 177.
2.2. Menjelaskan arti Q. S. Al Isra’, 26 – 27, dan Q.S. Al Baqarah; 177
2.3. Menampilkan perilaku menyantuni kaum Dhu’afa seperti yang terkandung dalam Q. S. Al Isra’, 26 – 27, dan Q.S. Al Baqarah; 177

TARTILAN

Bacalah ayat-ayat berikut dengan tartil dan renungkanlah maknanya serta perhatikan adab dan sopan santun membaca Al Qur’an.


• Q. S. Al Isra’ 26 - 27




• Q.S. Al Baqarah ayat 177














• Q.S. Al Baqarah; 195







1. Bacaan dan Penjelasan Tajwid
 Bacalah ayat berikut dengan tartil dan fasih. Kemudian salin kembali dengan benar dan baik.






 Penjelasan Tajwid
Lafal Hukum Bacaan Cara membaca Alasan



Al Qamariyah Zal qurbaa
( al dibaca jelas ) Alif lam bertemu qaf sehingga alif tidak dibaca.



Al Syamsiyah Wabnas sabiili
( al tidak dibaca ) Alif lam bertemu dengan sin, sehing-ga al tidak dibaca.



Qalqalah
Wabb
( ba’ dibaca memantul ) Huruf Ba’ yang disukun ( mati )



Mad ‘iwad kafuuraa
( dibaca panjang 2 harakat ) Tanwin fathah di-waqofkan berubah jadi fathah saja



Mad thobi’i
Kaanuu Alif sukun sebelum-nya fathah, dan wau sukun sebe-lumnya dhunnah.

 Kegiatan Siswa
Lafal Pernyataan Hukum bacaan Cara membacanya


Alif lam mengadap mim
........
.........


Alif lam menghadap syin
.....
.........


Tanwin fathah dibaca waqof



Nun ditasydid
......
......


Ali sukun sebelumnya fathah
......
.......

2. Terjemahan Per-kata



dan orang yang dalam perjalanan


dan orang-orang miskin


haknya


kekera-batan


yang punya


dan berikanlah



mereka adalah


orang-orang yang boros


sesung-guhnya



yang boros


kalian memboros-kan


dan jangan



sangat ingkar


kepada Tuhannya


setan


dan adalah


setan


teman


3. Terjemahan ayat
Terjemahan Q.S. Al Isro’, 17 : 26 - 27 adalah :
Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan ( hartamu ) secara boros. ( 26)
Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (27)

4. Kandungan
o Allah SWT menyuruh kepada umat Islam untuk memberikan hak kaum kerabat, fakir miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.
o Allah SWT melarang kepada umat Islam menghambur-hamburkan harta secara boros, karena perilaku boros menjadi teman atau saudaranya setan, sedangkan setan itu ingkar kepada Tuhannya.

5. Penjelasan
Qur’an Surat Al Israa’ terdiri dari 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makiyyah. Dinamakan dengan “ Al Israa’ “ yang berarti “ memperjalankan di malam hari “. Peristiwa Israa’ Mabi Muhammad s.a.w. di masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini. Penuturan cerita Israa’ pada permualaan surat ini mengandung isyarat bahwa Nabi Muhammad s.a.w. beserta umatnya dikemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.
Pada ayat 26-27 menerangkan kewajiban seseorang untuk memberikan hak-hak kaum kerabat meliputi : kasih sayang, rasa hormat, nafkah, keamanan dan pertolongan bila diperlukan. Hak fakir miskin adalah memperoleh santunan dan sedekah, serta kasih sayang. Sedangkan hak orang yang dalam perjalanan adalah memperoleh bantuan materi bila diperlukan, bantuan pikiran, dan pertolongan untuk dapat sampai kepada tujuannya. Allah melarang orang yang menghambur-hamburkan harta, yaitu membelanjakan harta bendanya yang tidak ada manfaatnya, bahkan sebaliknya membelanjakan harta yang berakibat akan membawa kerusakan pada diri mereka baik fisik maupun mental.
Allah menyuruh manusia untuk bersedekah karena bersedekah itu akan menjadikan hartanya menjadi tambah, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Q.S. Al Baqarah ayat 261 yang artinya : “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah) adalah serupa dengan sebulir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.




1. Bacaan dan Penjelasan Tajwid
 Bacalah ayat berikut dengan tartil dan fasih. Kemudian salin kembali dengan benar dan baik.












 Penjelasan Tajwid
Lafal Hukum Bacaan Cara membaca Alasan



Ikhfa’
An tuwallu Nun sukun berte-mu ta’



Izhar syafawi
Wujuuhakum qibala Mim mati bertemu qaf



Izhar haqiqi
Man aamana harakat Nun sukun berte-mu hamzah



Mad wajib
munttasil
Walmalaaaaikati Mad bertemu ham-zah dalam satu lafal



Izhar syafawi
Bi’ahdihim iza Mim mati bertemu hamzah



Al Syamsiyah
Washaabiriina iza Alif lam mengha-dap shad




 Kegiatan Siswa
Lafal Pernyataan Hukum bacaan Cara membacanya


Ra’ tasydid sebelumnya kasrah
........
.........


Alif lam menghadap mim
.....
.........


Nun tasydid


Lam jalalah sebelumnya kasroh
......
......


Huruf ba’ disukun
( mati)
......
.......


Mad bertemu hamzah dalam satu lafal


Mad menghadap mim yang diwaqofkan

3. Terjemahan Per-kata



kearah


wajah-wa-jah kalian


kalian hadapkan


untuk


kebajikan


bukanlah


dia beriman


orang yang


kebajikan


akan tetapi


dan barat


timur



dan memberi-kan


dan nabi-nabi


dan kitab-kitab setan


dan malaikat-malaikat


dan hari akhir


kepada Allah




dan orang-orang miskin


dan anak-anak yatim


dan kerabat dekat


yang dicintainya


atas


harta



salat


dan orang yang men-dirikan


memerde-kakan ham-ba sahaya


dan dalam


dan orang yang minta-minta

dan ibnu sabil



mereka berjanji


apabila


pada janji mereka


dan orang-orang yang menepati


zakat


dan orang yang me-nunaikan




perang



dan ketika


dan kemelaratan



kesempitan



dalam

dan orang-orang yang sabar



orang-orang yang bertaqwa


merekalah


dan mereka itu


(mereka) benar


orang-orang yang


mereka itulah


4. Terjemahan ayat
Terjemahan Q.S. Al Baqarah, 2 : 177 adalah :
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah ( kebajikan ) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan, (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (177)

5. Kandungan
Kandungan Q.S. Al Baqarah, 2 : 177 adalah :
o K ebajikan itu tidaklah terletak kepada menghadapkan wajah kea rah timur dan ke barat. Tetapi kebajikan yang sebebenarnya adalah memiliki iman yang benar yaitu percaya kepada Allah SWT diyakini dalam hati, diucapkan dalam lisan dan dibuktikan dalam bentuk perbuatan.
o Ciri-ciri iman yang benar itu diungkapkan dalam ayat tersebut adalah:
a. Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan Rosul-rosul sejak nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw.
b. Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang yang miskin, orang yang dalam perjalanan ketika kekuranga, orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya.
c. Melaksanakan salat wajib dengan khusyuk dan salat-salat sunah lainnya.
d. Mengeluarkan zakat yang diberikan kepada orang yang berhak menerimanya.
e. Menepati janji ketika ia berjanji dengan orang lain.
f. Bersikap sabar ketika dalam kesempitan, penderitaan, dan disaat suasana perang.

6. Penjelasan
Qur’an Surat Al Baqarah terdiri dari 286 ayat, Sebagian besar ayatnya diturunkan di Madinah dan sebagian besar diturunkan pada permulaan tahun Hijriyah, kecuali ayat 281 yang diturunkan di Mina pada Haji Wada’ ( haji Nabi Muhammad saw yang terakhir). Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan ayat Madaniyah, termasuk surat yang terpanjang diantara surat-surat yang ada dalam Al Qur’an. Bahkan didalam surat Al Baqarah terdapat ayat yang terpanjang diantara ayat-ayat yang terdapat dalam Al Qur’an yakni ayat yang ke 282.
Pada surat Al Baqarah ayat 177 menerangkan bahwa kebajikan itu bukanlah seseorang yang mau menghadapkan wajahnya ke arah timur dan barat yakni kearah Baitul Maqdis dan ke arah Baitullah sebagai kiblatnya, akan tetapi mereka yang mau beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, yakni melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Orang yang imannya benar itu adalah :
1). Meyakini kebenaran rukun iman yang meliputi iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rosul-rosul, Hari akhir, dan qadla-qadar.
2). Melaksanakan rukun Islam yang lima yaitu : syahadat, salat, zakat, puasa, dan Haji ke Baitullah di Makkah.
3). Menjaga hubungan baik dengan sesama manusia yakni mau bersedekah, zakat dan menolong orang-orang yang dalam kesulitan dan kesusahan.
4). Menjaga keseimbangan diri dengan baik yakni berlaku baik terhadap dirinya sendiri meliputi berlaku sabar, menepati janji, tidak menjerumuskan dirinya ke lembah kesengsaraan dan kehinaan.

KEGIATAN SISWA

 Diskusikan dengan teman-temanmu bagaimana sikap dan perilaku orang Islam yang imannya benar.
 Coba identifikasi tanda-tanda seorang Muslim dan Muslimat yang bertaqwa.
 Coba renungkan apa manfaat dan hikmah yang dapat dipetik bagi orang yang telah dapat menyantuni anak yatim dan fakir miskin.

RANGKUMAN
• Surah Al Isra’ ayat 26 – 27 berisi bahwa Allah SWT menyuruh kepada manusia untuk memenuhi hak kaum kerabat, fakir miskin, dan orang-orang dalam perjalanan. Begitu pula Allah SWT melarang untuk menghambur-hamburkan harta benda secara boros, karena pemboros itu menjadi temannya setan.

• Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 177 berisi bahwa kebajikan itu tidaklah terletak pada menghadapkan wajah ke arah barat dan ke timur, melainkan memiliki iman yang benar. Beriman yang benar itu adalah meyakini dalam hati, diucapkan pada lisan dan dibuktikan dalam perbuatan, yang meliputi iman kepada Allah, malaikat, kitab, rosul, salat, haji, berzakat, serta berperilaku selalu menjalin hubungan baik dengan Allah dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.

UJI KOMPETENSI
A. Aspek afektif
Isilah pernyataan-pernyataan berikut sesuai dengan sikapmu yang sebenarnya dengan cara mencontreng ( √ ) pada kolom yang tersedia





INTERNALISASI AKHLAK MULIA
No Pernyataan setuju tidak setuju tidak tahu alasan
1 Memberikan kasih sayang, rasa …… …… ….. ……
hormat dan bantuan kepada kaum kerabat adalah kewajiban kita sebagai saudara.
2 Apabila kita menjadi orang kaya …… …… ….. ……
maka akan saya keluarkan 2½ persen untuk menyantuni fakir miskin dan sabilillah
3 Menghambur-hamburkan harta …… …… ….. ……
kekayaan berarti mengikuti langkah-langkah setan
4 Menyantuni anak yatim piatu …… …… ….. ……
dan orang-orang yang lemah termasuk tanda-tanda orang yang imannya benar.
5 Membantu fakir miskin yang ….. …. …. …..
kuat fisik tidak dengan cara uang kontan, melainkan dibe-rikan pelatihan ketrampilan


B. Aspek kognitif
1). Soal pilihan ganda
Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar dengan cara menyilang (X) pada huruf a,b,c,d, atau e.
1. Lafal yang terdapat dalam Q.S. Al Baqarah 177 berbunyi terdapat mim mati bertemu dengan alif adalah bacaan…
a. ikhfa’ d. izhar syafawi
b. iqlab e. Al syamsiyah
c. idgham

2. Lafal pada Q.S. Al Isra’ ayat 26 berisi tentang…
a. perintah menyantuni kerabat d. larangan berhati kasar
b. perintah berlemah lembut e. kewajiban beiman yang benar
c. larangan berbuat boros

3. Lafal dalam Q.S. Al Baqarah 177 mempunyai arti…
a. menghadapkan wajahmu d. temannya setan
b. melihat dengan mukamu e. musafir yang kehabisan bekal
c. kea rah barat dan timur

4. Menurut Q.S. Al Isra’ 26 – 27 bahwa orang yang lebih dahulu berhak memperoleh sedekah adalah…
a. fakir miskin d. kerabat dekat
b. sabilillah e. anak yatim
c. ibnu sabil

5. Berikut ini adalah hak-hak kaum kerabat dekat. Adapun yang tidak termasuk di dalamnya adalah…
a. mendapat santunan ketika kesulitan
b. mendapatkan kasih sayang
c. mendapat bantuan perawatan ketika sakit
d. menjadi tempat peminjaman uang
e. memberi bantuan pendidikan agama

6. Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut :
(1) mengimani Allah beserta malaikat-malaikat-Nya
(2) mengimani kepada kitab dan rosul-rosul Allah
(3) bersedekah dan berzakat kepada mustahik
(4) menepati janji serta berperilaku baik kepada sesama manusia
(5) saling melaksanakan ibadah agama yang berbeda dalam keluarga
Dari pernyataan di atas yang merupakan ciri iman yang tidak benar adalah…
a. (1),(2) c. (2), (3) e. (5)
b. (1), (3) d. ( (3), (4)

7. Q.S. Al Baqarah 177 terdapat kalimat
berisi tentang…
a. berlaku lemah lembut dan larangan berhati kasar
b. kebajikan itu adalah beriman kepada Allah dan Rosul-rosul-Nya
c. bersikap sabar ketika kesempitan, kemelaratan dan ketika perang
d. menepati jajnji ketika berjanji dan berperilaku sabar
e. perintah mendirikan salat dan bertawakal kepada Allah
8. Berikut ini adalah perilaku orang yang menjalin hubungan baik dengan diri sendiri, adapun yang tidak termasuk di dalamnya adalah…
a. menepati janji ketika berjanji
b. berperilaku jujur dan tidak melakukan dosa
c. giat belajar untuk menuntut ilmu
d. berusaha sekuat tenaga agar hidupnya tidak miskin
e. menuruti kesenangan hatinya serta hawa nafsunya

9. Pada akhir ayat Q.S. Al Baqarah 177 terdapat kalimat
artinya adalah….
a. mereka itulah orang-orang yang imannya benar
b. mereka itulah orang-orang yang bertaqwa
c. mereka orang yang dalam kesulitan dan kemelaratan
d. mereka itulah orang-orang yang beruntung
e. mereka itu tidak mengikuti bujukan setan

10. Seorang yang imannya benar adalah tidak melakukan perbuatan boros. Orang yang bertaqwa itu senantiasa membelanjakan hartanya adalah…
a. tidak memanfaatkan hartanya
b. tidak terlalu irit
c. tidak membutuhkan harta
d. tidak menghemat harta
e. tidak menyimpan harta yang banyak


2). Soal Uraian
Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan benar!
1. Mengapa sifat pemboros itu termasuk sifat tercela?
2. Tulislah kembali Q.S. Al Baqarah ayat 177 dan Jelaskan kandungan Q.S. Al Baqarah ayat 177 !
3. Sebutkan ciri-ciri orang yang imannya benar !
4. Sebutkan tanda-tanda orang yang munafik itu sebagaimana yang pernah disebutkan dalam Hadis Nabi !
5. Bagaimana cara menjalin hubungan dengan diri sendiri dengan baik?

Keutamaan Shalat Shubuh Dan Ashar

1044. Dari Abu Musa r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa yang bersembahyang shalat bardain - yakni shalat Subuh dan shalat Asar, maka ia akan masuk syurga." (Muttafaq �alaih)

1045. Dari Abu Zuhair iaitu Umarah bin Ruwaibah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tidak akan masuk neraka seseorang yang bersembahyang sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya," yakni shalat Subuh dan shalat Asar. (Riwayat Muslim)

1046. Dari Jundub bin Sufyan r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa yang bersembahyang Subuh, maka ia adalah dalam tanggungan Allah - yakni mengenai keselamatan dirinya dan Iain-Iain. Maka perhatikanlah, hai anak Adam - yakni manusia, janganlah sampai Allah itu menuntut kepadamu sesuatu dari tanggungannya." (Riwayat Muslim)

Keterangan Hadis di atas harap dilihat dalam Hadis no. 388.


1047. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Berganti-gantilah untuk menyertai engkau semua beberapa malaikat di waktu malam dan beberapa malaikat di waktu siang. Mereka sama berkumpul dalam shalat Subuh dan shalat Asar. Kemudian naiklah malaikat yang bermalam denganmu semua itu, lalu Allah bertanya kepada mereka, padahal sebenarnya Allah adalah lebih Maha Mengetahui tentang hal-ihwal hamba-hamba-Nya, tanyaNya: "Bagaimanakah engkau semua meninggalkan hamba-hambaKu?" lalu para malaikat itu menjawab: "Kita meninggalkan mereka dan mereka sedang melakukan shalat dan sewaktu kita mendatangi mereka itu, juga di waktu mereka melakukan shalat." (Muttafaq �alaih)

1048. Dari Jarir bin Abdullah al-Bajali r.a., katanya: "Kita semua ada di sisi Nabi s.a.w. Beliau s.a.w. lalu melihat bulan di malam bulan purnama - yakni tanggal empat belas bulan hijriyah, kemudian beliau bersabda: "Engkau semua akan dapat melihat Tuhanmu sebagaimana engkau semua melihat bulan ini, tidak akan memperoleh kesukaran engkau semua dalam melihatNya itu. Maka jikalau engkau semua dapati tidak akan dialahkan oleh shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah itu," maksudnya jangan sampai dialahkan oleh sesuatu hal sehingga tidak melakukan kedua shalat itu dan jelasnya ini adalah merupakan perintah wajib. (Muttafaq �alaih)

Dalam suatu riwayat disebutkan: "Beliau s.a.w. lalu melihat ke bulan pada malam bulan purnama itu - yakni bulan tanggal empat belas."

1049. Dari Buraidah r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang meninggalkan shalat Asar, maka leburlah -yakni rosaklah - amal kelakuannya." (Riwayat Bukhari)
Keutamaan Berjalan Ke Masjid


1050. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa pergi ke masjid pada waktu pagi atau petang hari, maka Allah menyediakan untuknya suatu hidangan - yang lazim diberikan untuk tamu - di syurga, setiap kali ia pergi pagi atau petang hari itu." (Muttafaa�alaih)

1051. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:

" Barangsiapa yang bersuci di rumahnya kemudian ia pergi ke salah satu dari beberapa rumah Allah - yakni masjid - untuk menyelesaikan salah satu shalat wajib dari beberapa shalat yang diwajibkan oleh Allah, maka langkah-langkahnya itu yang selangkah dapat menghapuskan satu kesalahan sedang langkah yang lainnya dapat menaikkan satu darjat." (Riwayat Muslim)

1052. Dari Ubay bin Ka�ab r.a., katanya: "Ada seorang dari golongan sahabat Anshar yang saya tidak mengetahui seseorang pun yang rumahnya lebih jauh letaknya dari rumah orang itu jikalau hendak ke masjid, tetapi ia tidak pernah terlambat oleh sesuatu shalat - yakni setiap shalat fardhu ia mesti mengikuti berjamaah. Kepadanya dikatakan: "Alangkah baiknya jikalau engkau membeli seekor keledai yang dapat engkau naiki di waktu malam gelap gulita serta di waktu teriknya panas matahari." la menjawab: "Saya tidak senang kalau rumahku itu ada di dekat masjid, sesungguhnya saya ingin kalau jalanku sewaktu pergi ke masjid dan sewaktu pulang dari masjid untuk kembali ke tempat keluargaku itu dicatat pahalanya untukku."

Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Allah telah mengumpulkan untuk pahala kesemuanya itu - yakni waktu pergi dan pulangnya semuanya diberi pahala." (Riwayat Muslim)

1053. Dari Jabir r.a., katanya: "Ada beberapa bidang tanah di sekitar masjid itu kosong, lalu keluarga Bani Salimah berkehendak akan berpindah di dekat masjid. Hal itu sampai terdengar oleh Nabi s.a.w., lalu beliau bersabda kepada mereka: "Ada berita yang sampai kepadaku bahawa engkau semua hendak berpindah di dekat masjid." Mereka menjawab: "Benar, ya Rasulullah. Kita memang berkehendak demikian." Beliau lalu bersabda lagi: "Hai keluarga Bani Salimah, bekas langkah-langkahmu - ke masjid itu - dicatat pahalanya untukmu semua. Maka itu tetaplah di rumah-rumahmu itu saja, tentu dicatatlah bekas langkah-langkahmu semua itu." Mereka lalu berkata: "Kita tidak senang lagi untuk berpindah."

Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Imam Bukhari juga meriwayat-kan yang semakna dengan Hadis di atas dari riwayat Anas.

1054. Dari Abu Musa r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya sebesar-besar manusia perihal pahalanya dalam shalat ialah yang terjauh di antara mereka itu tentang jalannya lalu lebih jauh lagi. Dan orang yang menantikan shalat sehingga ia dapat mengikuti shalat itu bersama imam adalah lebih besar pahala-daripada orang yang melakukan shalat itu - dengan munfarid -lalu ia tidur." (Muttafaq �alaih)

1055. Dari Buraidah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan di waktu malam ke masjid-masjid bahawa mereka akan memperolehi cahaya yang sempurna besok pada hari kiamat." (Riwayat Abu Dawud dan Termidzi)

1056. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sukakah engkau semua kalau saya tunjukkan akan sesuatu amalan yang dapat melebur semua kesalahan dan dengan-nya dapat pula menaikkan beberapa darjat?" Para sahabat menjawab: "Baiklah, ya Rasulutlah." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Iaitu menyempurnakan wudhu� sekalipun menemui beberapa hal yang tidak disenangi - seperti terlampau dingin dan sebagainya, banyak-nya melangkahkan kaki untuk ke masjid dan menantikan shalat sesudah melakukan shalat. Itulah yang dapat disebut ribath, itulah yang disebut ribath - perjuangan menahan nafsu untuk memper-banyak ketaatan pada Tuhan." (Riwayat Muslim)

1057. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Jikalau engkau semua melihat seseorang membiasakan -pulang pergi - ke masjid, maka saksikanlah ia dengan keimanan -yakni bahawa orang itu benar-benar orang yang beriman. Allah Azza wa jalla berfirman: "Hanyasanya yang meramaikan masjid-masjidnya Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir."* sampai ke akhir ayat.

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

* Kelengkapan isi ayat di atas, yang tercantum dalam surat al-Bara�ah atau at-Taubah, ayat 16, ertinya adalah sebagai berikut:

"Serta mendirikan shalat dan menunaikan zakat, juga tidak takut melainkan kepada Allah. Maka mudah-mudahanlah mereka itu termasuk golongan orang-orang yang rnemperolehi petunjuk benar - dari Tuhan."
Keutamaan Menantikan Shalat


1058. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Seseorang di antara engkau semua itu masih tetap dianggap dalam shalat, selama shalat itu menyebabkan ia tertahan. jadi tidak ada yang menghalang-halangi ia untuk kembali ke tempat keluarga itu melainkan kerana menantikan shalat." (Muttafaq �alaih)

1059. Dari Abu Hurairah r.a., pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Dan malaikat itu mendoakan kepada seseorang di antara engkau semua supaya mendapatkan kerahmatan, selama orang itu masih ada di dalam tempat shalatnya yang ia bersembahyang di situ, juga selama ia belum berhadas. Malaikat itu mengucapkan: "Ya Allah, ampunilah orang itu, ya Allah, belas kasihanilah ia." (Riwayat Bukhari)

1060. Dari Anas r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. mengakhirkan shalat Isya� pada suatu malam sampai ke pertengahan malam, kemudian beliau s.a.w. menghadap - kepada orang banyak - dengan wajahnya setelah selesai bersembahyang, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Orang-orang sudah bersembahyang dan mereka telah tidur dan engkau semua senantiasa dianggap dalam melakukan shalat, sejak engkau semua menantikan shalat itu." (Riwayat Bukhari)
Keutamaan Shalat Jama�ah


1061. Dari Ibnu Umar radhiallahu �anhuma bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Shalat jamaah adalah lebih utama dari shalat fadz - yakni sendirian -dengan kelebihan dua puluh tujuh darjat." (Muttafaq �alaih)

1062. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Shalatnya seseorang lelaki dalam jamaah itu dilipat gandakan pahalanya melebihi shalatnya di rumahnya secara sendirian -munfarid - atau di pasarnya dengan dua puluh lima kali lipatnya. Yang sedemikian itu ialah kerana bahawasanya apabila seseorang itu berwudhu� lalu memperbaguskan cara wudhu�nya, kemudian keluar ke masjid, sedang tidak ada yang menyebabkan keluarnya itu melainkan kerana hendak bersembahyang, maka tidaklah ia melangkah sekali langkah, melainkan dinaikkanlah untuknya sedarjat dan dihapuskan daripadanya satu kesalahan. Selanjutnya apabila ia bersembahyang, maka para malaikat itu senantiasa mendoakan untuknya supaya ia memperolehi kerahmatan Allah, selama masih tetap berada di tempat shalatnya, juga selama ia tidak berhadas. Ucapan malaikat itu ialah: "Ya Allah, berikanlah kerahmatan pada orang itu; ya Allah, belas-kasihanilah ia." Orang tersebut dianggap berada dalam shalat, selama ia menantikan shalat - jamaah." (Muttafaq �alaih)

Ini adalah lafaznya Imam Bukhari.

1063. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Ada seorang lelaki buta matanya datang kepada Nabi s.a.w. lalu berkata: "Ya Rasulullah, saya ini tidak mempunyai seorang pembimbing yang dapat membimbing saya untuk pergi ke masjid," lalu ia meminta kepada Rasulullah s.a.w. supaya diberi kelonggaran untuk bersembahyang di rumahnya saja, kemudian beliau s.a.w. memberikan kelonggaran padanya. Setelah orang itu menyingkir, lalu beliau s.a.w. memanggilnya dan berkata padanya: "Adakah engkau mendengar azan shalat?" Orang itu menjawab: "Ya, mendengar." Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Kalau begitu, kabulkanlah isi azannya itu."

Maksudnya: Datanglah untuk mengikuti jamaah, kalau menghendaki banyak fadhilah. (Riwayat Muslim)

1064. Dari Abdullah, ada yang mengatakan: �Amr bin Qais yang terkenal dengan sebutan Ibnu Ummi Maktum, seorang muazzin r.a. bahawasanya ia berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Madinah ini banyak sekali binatang melatanya - seperti ular, kala dan Iain-Iain - juga banyak binatang buasnya." Kemudian Rasulullah s.a.w. ber-sabda: "Apakah engkau mendengar ucapan Hayya �alas shalah dan Hayya �alal falah? - maksudnya: Apakah engkau mendengar bunyi azan? Kalau memang mendengar, maka marilah datang ke tempat berjamaah."

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

Hayya �ala ertinya marilah datang.

ADAKAH PACARAN ISLAMI ?

Berikut ini adalah beberapa syarat pacaran secara Islami :
1. Pacaran hanya boleh dilakukan setelah pernikahan. Artinya Ijab Qabul antara Kamu sebagai laki-laki dengan wali dari mempelai wanita sudah terjadi. Bukan justru saat ini, saat kamu masih sekedar basa-basi, ingin sok kenal, sok sayang, sok cinta sama anaknya orang. Tapi pada kenyataannya kamu hanya menghambat kreativitas gadismu. Ingat, mencintai berarti menyerahkan kebahagiaan hanya pada orang yang kamu cintai. Ketika kamu sedih, kamu ingin dia merasakan apa yang kamu rasa. Ketika dia berduka, kamu pun akan merasakannya. Itu mesti, karena jika tidak begitu, cinta yang kamu rasakan pasti hanya cinta yang sekedar lewat, atau malah hanya simpatik, atau malah hanya perasaan kagum yang sementara. Jadi ketika saat ini kamu mencintainya dengan sepenuh hati, kamu gak bakal rasakan kebahagiaan sepanjang hayat. Setiap saat kamu akan terbelit masalah, terganggu hatimu mendengar dia bersama orang lain, dst. dst.
2. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), maka jangan pernah bertemu dengannya tanpa ada pihak ketiga
3. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), jangan pernah berduaan (berkhalwat), apalagi jalan ke mall bareng, lebih-lebih nonton bioskop (siang atau malam hari, siang aja gelap, apalagi malam). Jangan pergi ke tempat rekreasi berduaan.
4. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), jangan pernah duduk berdekatan (Jarak minimal adalah 1 meter, selama pembicaraan! Bukan di awal pembicaraan 1 meter, tapi lama-kelamaan jadi 1 cm)
5. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), jangan melakukan pembicaraan lewat telepon dengan durasi lebih dari 3 menit (Itu akan menimbulkan pembicaraan yang sia-sia, yang dipenuhi nafsu)
6. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), jangan melakukan kirim SMS rutin dengan kata-kata yang tidak senonoh. Ingat, wanita yang akan kita sayangi harus kita jaga, harus kita hargai.
7. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), segera lakukan pertemuan dengan orang tuanya setelah merasa bahwa dia adalah orang yang cocok. Minta orang yang kamu percaya untuk melakukan pengecekan (Hehehe… ) terhadap hal-hal yang kamu anggap perlu.
8. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), segera laporkan ke Kepala KUA setempat bahwa kamu ingin segera tercatat sebagai muslim yang menikah (berkeluarga).
Syarat di atas berlaku pada setiap orang dan semua kesempatan. Jika dalam pacaran saja syarat di atas harus berlaku, apalagi dalam dunia pertemanan, persahabatan. Kecuali jika teman akrabmu adalah muhrim mu.
Mungkin tulisan ini terlalu idealis, tapi hal ini merupakana kegelisahan yang mestinya mendapat jalan. Yang selama ini diyakinkan adalah Pacaran lebih banyak membawa mudharat daripada membawa manfaat. Dan itu telah terbukti, lahir batin.
Islam tidak pernah mengajarkan untuk berpacaran, Islam tidak mendukung itu. Dalam Islam ada “Mahabbah”, tapi itu bukan jalan untuk melegalkan hubungan unstatus. Jika memang ingin, jika memang ngebet, segera laporkan dirimu pada orang tuamu, lakukan khitbah (lamaran kepada calon mertua), lanjutkan ke KUA, hubungi kerabat, sebarkan undangan, lakukan walimah, setelah itu baru kamu bisa berpacaran bersama bidadarimu.

Selasa, 15 September 2009

Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri, adalah satu dari istilah-istilah "keagamaan" yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenarannya dari segi bahasa , walaupun semua pihak menyadari bahwa tujuannya adalah mencipakan keharmonisan antara sesama.

Hemat saya, paling tidak ada dua makna yang dapat dikemukakan menyangkut pengertian istilah tersebut, yang ditinjau dari dua pandangan. Yaitu, pertama, bertitik tolak dari pandangan hukum Islam dan kedua berpijak pada arti kebahasan.

Menurut pandangan pertama - dari segi hukum - kata halal biasanya dihadapkan dengan kata haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang sehingga pelanggarannya berakibat dosa dan mengundang siksa, demikian kata para pakar hukum. Sementara halal adalah sesuatu yang diperbolehkan serta tidak mengundang dosa. Jika demikian, halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa. menjadi halal dengan jalan memohon maaf.

Pengertian seperti yang dikemukakan di atas pada hakikatnya belum menunjang tujuan keharmonisan hubungan, karena dalam bagian halal terdapat sesuatu yang dinamai makruh atau yang tidak disenangi dan sebaiknya tidak dikerjakan. Pemutusan hubungan (suami-istri, mislanya) merupakan sesuatu yang halal tapi paling dibenci Tuhan. atas dasar itu, ada baiknya makna halal bihalal tidak dikaitkan dengan pengertian hukum.

Menurut pandangan kedua - dari segi bahasa - akar kata halal yang kemudian membentuk berbagai bentukan kata, mempunyai arti yang beraneka ragam, sesuai dengan bentuk dan rangkaian kata berikutnya. Makna-makna yang diciptakan oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain, berarti "menyelesaikan problem", "meluruskan benang kusut", "melepaskan ikatan", dan "mencairkan yang beku".

Jika demikian, ber-hala bihalal merupakan suatu bentuk aktivitas yang mengantarkan pada pelakunya untuk meluruskan benag kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya beku sehingga cair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghadang terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram. Ia menjadi begitu karena Anda lama tidak berkunjung kepada seseorang, atau ada sikap tidal adil yang Anda ambil namun menyakitkan orang lain, atau timbul keretakan hubungan dari kesalhpahaman akibat ucapan dan lirikan mata yang tidak disengaja. Kesemuanya ini, tidak haram menurut pandangan hukum, namun perlu diselesaikan secara baik; yang beku dihangatkan, yang kusut diluruskan, dan yang mengikat dilepaskan.

Itulah makna serta substansi halal bihalal, atau jika istilah tersebut enggan anda gunakan, katakanlah bahwa itu merupakan hakikat Idul Fitri, sehingga semakin banyak dan seringnya Anda mengulurkan tangan dan melapangkan dada, dan semakin parah luka hati yang Anda obati dengan memaafkan , maka semakin dalam pula penghayatan dan pengamalan Anda terhadap hakikat halal bihalal . Bentuknya memang khas Indonesia, namun hakikatnya adalah hakikat ajaran Islam.

Minggu, 16 Agustus 2009

DURHAKA PADA ORANG TUA

Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka. [QS. Al-Isra' (17): 23]

‘Uquuqul walidain (durhaka kepada orang tua) adalah dosa besar. Karena itu, Rasulullah saw. –seperti yang dikutip oleh Ibnu Al-Atsir dalam kitabnya An-Nihaayah—melarang perbuatan durhaka kepada kedua orang tua.

Seseorang dikatakan ‘aqqa waalidahu, ya’uqquhu ‘uqaaqan, fahuwa ‘aaqun jika telah menyakiti hati orang tuanya, mendurhakainya, dan telah keluar darinya. Kata ini merupakan lawan dari kata al-birru bihi (berbakti kepadanya).

Kata al-’uquuq (durhaka) berasal dari kata al-’aqq yang berarti asy-syaq (mematahkan) dan al-qath’u (memotong). Jadi, seorang anak dikatakan telah durhaka kepada orang tuanya jika dia tidak patuh dan tidak berbuat baik kepadanya, atau dalam bahasa Arab disebut al-’aaq (anak yang durhaka). Jamak dari kata al-’aaq adalah al-‘aqaqah. Berdasarkan pemaknaan ini, maka rambut yang keluar dari kepala seorang bayi yang baru lahir dari perut ibunya dinamakan dengan aqiiqah, karena rambut itu akan dipotong.

Yang dimaksud dengan al-’uquuq (durhaka) adalah mematahkan “tongkat” ketaatan dan “memotong” (memutus) tali hubungan antara seorang anak dengan orang tuanya.

Jadi, yang dimaksud dengan perbuatan durhaka kepada kedua orang tua adalah mematahkan “tongkat” ketaatan kepada keduanya, memutuskan tali hubungan yang terjalin antara orang tua dengan anaknya, meninggalkan sesuatu yang disukai keduanya, dan tidak menaati apa yang diperintahkan atau diminta oleh mereka berdua.

Sebesar apa pun ibadah yang dilakukan oleh seseorang hamba, itu semua tidak akan mendatangkan manfaat baginya jika masih diiringi perbuatan durhaka kepada kedua orang tuanya. Sebab, Allah swt. menggantung semua ibadah itu sampai kedua orang tuanya ridha.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa dia berkata, “Tidaklah seorang muslim memiliki dua orang tua muslim, (kemudian) dia berbakti kepada keduanya karena mengharapkan ridha Allah, kecuali Allah akan membukakan dua pintu untuknya –maksudnya adalah pintu surga–. Jika dia hanya berbakti kepada satu orang tua (saja), maka (pintu yang dibukakan untuknya) pun hanya satu. Jika salah satu dari keduanya marah, maka Allah tidak akan meridhai sang anak sampai orang tuanya itu meridhainya.” Ditanyakan kepada Ibnu ‘Abbas, “Sekalipun keduanya telah menzaliminya?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Sekalipun keduanya telah menzaliminya.”

Oleh karena itu ketika ada seseorang yang memaparkan kepada Rasulullah saw. tentang perbuatan-perbuatan ketaatan (perbuatan-perbuatan baik) yang telah dilakukannya, maka Rasulullah saw. pun memberikan jawaban yang sempurna yang dikaitkan dengan satu syarat, yaitu jika orang itu tidak durhaka kepada kedua orang tuanya.

Diriwayatkan dari ‘Amr bin Murah Al-Juhani r.a. bahwa dia berkata, “Seorang lelaki pernah mendatangi Nabi saw. kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang haq), kecuali Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah. Aku (juga) telah melaksanakan shalat lima (waktu), menunaikan zakat dari hartaku, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.’ Nabi menjawab, ‘Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan (seperti) ini, maka dia akan bersama para nabi, shiddiqiin, dan syuhada pada hari Kiamat nanti seperti ini –beliau memberi isyarat dengan dua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah)—sepanjang dia tidak durhaka kepada kedua orang tuanya.’”

Hadits-hadits Tentang Durhaka

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Sungguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka!” Seseorang bertanya, “Siapa yang celaka, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Barangsiapa yang sempat bertemu dengan kedua orang tuanya, tetapi dia tidak bisa masuk surga (karena tidak berbakti kepada mereka).”

Diriwayatkan dari Jabir bin Samrah r.a., dia berkata, Nabi saw. pernah naik ke atas mimbar, kemudian dia mengucapkan, “Amin, amin, amin.” Lalu beliau bersabda, “Jibril a.s. telah mendatangiku, kemudian dia berkata, ‘Wahai Muhammad, barangsiapa yang sempat bertemu dengan salah satu dari kedua orang tuanya (dan tidak berbakti kepada mereka), kemudian dia meninggal dunia, maka dia akan masuk neraka dan Allah akan menjauhkan dia dari (rahmat-Nya). Katakanlah (olehmu) ‘amin’, maka aku pun mengatakan ‘amin’. Jibril kemudian berkata, ‘Wahai Muhammad, barangsiapa yang menjumpai bulan Ramadhan (dan dia tidak berpuasa) kemudian meninggal dunia, maka Allah tidak mengampuninya, dimaksukkan ke neraka, dan Allah akan menjauhkan dia dari (rahmat-Nya). Katakanlah (olehmu) ‘amin’, maka aku pun mengatakan ‘amin’.’ Jibril kemudian berkata, ‘Barangsiapa yang ketika disebutkan namamu di sisinya, tetapi dia tidak (membaca) shalawat kepadamu, kemudian dia meninggal dunia, maka dia akan masuk neraka dan Allah akan menjauhkan dia dari (rahmat-Nya). Katakanlah (olehmu) ‘amin’, maka aku mengatakan ‘amin’.'”

Diriwayatkan dari Mughirah, dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada kalian perbuatan durhaka kepada ibu-ibu (kalian), menuntut sesuatu yang bukan hak (kalian), dan mengubur hidup-hidup anak perempuan. Allah juga telah membenci percakapan tidak jelas sumbernya, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.”

Bukhari-Mualim meriwayatkan dari Abu Bakrah, dari bapaknya bahwa dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Maukan kalian jika aku beritahukan (kepada kalian) tentang dosa yang paling besar?’ Beliau mengucapkan sabdanya ini sebanyak tiga kali. Kami menjawab, ‘Mau, ya Rasulullah.’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua.’ Saat itu beliau sedang bersandar, kemudian beliau duduk, lalu bersabda, ‘Ketahuilah, (juga) kata-kata palsu dan kesaksian palsu. Ketahuilah, (juga) kata-kata palsu dan kesaksian palsu.’ Beliau terus mengatakan hal itu sampai aku berkata, beliau (hampir saja) tidak diam.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Angin surga akan dihembuskan dari jarak lima ratus tahun dan tidaklah akan mencium bau surga itu orang yang suka menyebut-nyebut amal perbuatannya, orang yang durhaka (kepada orang tuanya), dan orang yang kecanduan khamr.”

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar r.a. bahwa dia bersabda, Rasulullah saw. bersabda, “(Ada) tiga orang yang tidak akan dilihat Allah pada hari Kiamat: orang yang durhaka kepada kedua orang tuannya, orang yang kecanduan khamr, dan orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya.”

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwa dia berkata, Rasulullah bersabda, “Di antara dosa yang paling besar adalah (apabila) seorang anak melaknat kedua orang tuanya.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seorang anak melaknat kedua orang tuannya?” Rasulullah saw. menjawab, “(Apabila) anak mencaci ayah orang lain, maka berarti dia mencaci ayahnya (sendiri), dan dia mencaci ibu orang lain, maka berarti dia telah mencaci ibunya (sendiri).”

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. bahwa dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidaklah dianggap berbakti kepada sang ayah jika seseorang menajamkan pandangan (matanya) kepada ayahnya itu karena ia marah (kepadanya).’”

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar r.a., dari Nabi saw. bersabda beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah swt. tidak menyukai perbuatan durhaka (kepada kedua orang tua).”

Diriwayatkan dari Abu Bakrah r.a. dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Setiap dosa akan Allah tangguhkan (hukumannya) sesuai dengan kehendak-Nya, kecuali (dosa karena) durhaka kepada kedua orang tua. Sesungguhnya Allah swt. akan menyegerakan hukuman perbuatan itu kepada pelakunya di dunia ini sebelum ia meninggal.”

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar r.a., dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Keridhaan Allah itu ada pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan-Nya ada pada kemarahan kedua orang tua.”

Bentuk-bentuk Perbuatan Durhaka

1. Tidak memberikan nafkah kepada orang tua bila mereka membutuhkan.

2. Tidak melayani mereka dan berpaling darinya. Lebih durhaka lagi bila menyuruh orang tua melayani dirinya.

3. Mengumpat kedua orang tuanya di depan orang banyak dan menyebut-nyebut kekurangannya.

4. Mencaci dan melaknat kedua orang tuanya.

5. Menajamkan tatapan mata kepada kedua orang tua ketika marah atau kesal kepada mereka berdua karena suatu hal.

6. Membuat kedua orang tua bersedih dengan melakukan sesuatu hal, meskipun sang anak berhak untuk melakukannya. Tapi ingat, hak kedua orang tua atas diri si anak lebih besar daripada hak si anak.

7. Malu mengakui kedua orang tuanya di hadapan orang banyak karena keadaan kedua orang tuanya yang miskin, berpenampilan kampungan, tidak berilmu, cacat, atau alasan lainnya.

8. Enggan berdiri untuk menghormati orang tua dan mencium tangannya.

9. Duduk mendahului orang tuanya dan berbicara tanpa meminta izin saat memimpin majelis di mana orang tuanya hadir di majelis itu. Ini sikap sombong dan takabur yang membuat orang tua terlecehkan dan marah.

10. Mengatakan “ah” kepada orang tua dan mengeraskan suara di hadapan mereka ketika berselisih.

Penutup

Rasulullah saw. berpesan, “Berbaktilah (kalian semua) kepada bapak-bapak kalian, (niscaya) anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian.”