Minggu, 16 Maret 2008

Hadist Ikhlas

KATEGORI: Hadist
Hadist1
Dari Amirul mukminin, Umar bin khathab “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.
(Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits.)

Keutamaan hadist
Hadits ini adalah Hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan didalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim telah meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad. Hadits ini salah satu pokok penting ajaran islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’i berkata : “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dll. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih”, sejumlah Ulama’ mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.Para ulama gemar memulai karangan-karangannya dengan mengutip hadits ini. Di antara mereka yang memulai dengan hadits ini pada kitabnya adalah Imam Bukhari rahimahullah. Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata : “Bagi setiap penulis buku hendaknya memulai tulisannya dengan hadits ini, untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya”. Hadits ini dibanding hadits-hadits yang lain adalah hadits yang sangat terkenal, tetapi dilihat dari sumber sanadnya, hadits ini adalah hadits ahad, karena hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab dari Nabi? Dari Umar hanya diriwayatkan oleh ‘Alqamah bin Abi Waqash, kemudian hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dan selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id Al Anshari, kemudian barulah menjadi terkenal pada perawi selanjutnya. Lebih dari 200 orang rawi yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dan kebanyakan mereka adalah para Imam.

Hadist Ahad
Maka ada hal penting yang harus diperhatikan, karena ada sebagian kaum muslimin memiliki pemahaman menyimpang dengan menolak memakai hadist ahad. Sebagian dari mereka menolak hadist ahad secara keseluruhan, sebagian lagi menolak hadist ahad dalam perkara aqidah. Maka sungguh telah menyimpang pemahaman yang demikian dilihat dari beberapa sisi:

  1. Telah kita ketahui bahwa hadist ini telah disepakati keshahihannya, dan tidaklah suatu hadist dikatakan shahih kecuali semua perawinya tsiqah, terpercaya, bebas dari illah (cacat), bagus dhabt-nya, bukan pendusta, bukan pemalsu hadist. Maka bila ada orang yang menolak hadist ahad, secara tidak langsung ia merendahkan para perawi hadist tersebut.
  2. Telah kita ketahui bahwa para ulama seringkali mengutip hadist ini, bahkan hadist ini di riwayatkan oleh 2 ulama muhadditsin yang masyhur kealimannya, yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim. Lebih lagi Imam Bukhari memulai kitab Shahih-nya dengan hadist ini, begitu juga Imam Nawawi dalam kitab Arbain-nya. Maka orang yang menolak hadist ahad berarti telah menuduh Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nawawi dan para a’immah yang lain telah sesat karena mengutip hadist ini.
  3. Ketahuilah jumlah hadist mutawatir sangat sedikit sekali bila dibandingkan dengan jumlah hadist ahad dengan perbandingan sekitar 1:9 (Wallahu’alam). Maka jika hadist ahad ditolak, sungguh banyak sekali syariat dalam agama ini yang gugur karenanya.
  4. Terdapat hadist dimana Rasulullah menanyakan kepada Muadz bin Jabal: “Tahukah engkau apa hak Allah?”. Dan selanjutnya Rasulullah mengajarkan permasalahan aqidah kepada Muadz seorang diri. Dan Muadz menceritakan hadist ini dimasa-masa akhir hidupnya. Hadist ini hadist ahad karena hanya disampaikan kepada Muadz seorang diri. Maka perhatikanlah siapa yang berani berkata bahwa Rasulullah telah berbuat ceroboh atau berbuat salah dengan mengajarkan aqidah kepada seorang saja?
  5. Sikap memilih-milih hadist ahad atau bukan kemudian menolaknya bila ia membahas perkara akidah, ini adalah sebuah kaidah dan sebuah akidah yang baru. Tidak ada salafus shalih atau ulama ahlus sunnah yang penerapkan pembagian seperti ini. Karena tidak ada dalil yang mendasari kaidah yang baru ini. Maka sungguh ini adalah termasuk perkara bid’ah.

Maka pemahaman yang benar, yang disepakati oleh seluruh ulama ahlus sunnah adalah bahwa hadist ahad bisa diterima dan diamalkan, baik itu tentang masalah aqidah ataupun bukan, selama ia memenuhi syarat-syarat hadist shahih atau minimal hasan.

Tidak cukup hanya niat
Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Tentang sabda Rasulullah, “Semua amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat. Maka ketahuilah ikhwah, bahwa syarat utama diterimanya ibadah ada 2: Niat yang ikhlas dan pelaksanaannya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi SAW.
Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak berasal dari kami (Rasulullah dan para sahabat) maka tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka perhatikanlah, karena banyak orang salah faham dalam memahami hadist ini, yaitu bahwa bahwa hadist ini memiliki ruang lingkup bahasan. Yang dibahas dalam hadist ini adalah orang-orang yang sudah melaksanakan ibadah sesuai dengan tuntunan syariat, tinggal dibahas bagaimana niatnya, apakah sudah ikhlas atau belum? Jadi tidak termasuk bahasan hadist ini orang-orang yang pelaksanaannya belum sesuai syari’at. Maka tidak benar bila ada orang yang berbuat bid’ah yang ia anggap baik kemudian ia berdalil dengan hadist ini dan berkata “Yang penting khan niatnya”. Bila agama ini hanya dijalankan hanya dengan niat, maka yakinlah agama ini akan hancur. Karena orang-orang akan bebas melakukan apa saja sekehendak nafsunya yang ia anggap baik, tanpa mempedulikan syariat. Maka beragama yang benar, tidak cukup dengan niat!

Niat itu amalan hati
Para ulama sepakat bahwa niat itu amalan hati, tidak perlu dilafadzkan. Dan semua ulama sepakat melafadzkan niat adalah perbuatan baru yang harus dihindari dalam agama ini. Termasuk Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah. Karena sebagian orang yang berpendapat bolehnya melafadzkan niat berdalih dengan perkataan Imam Syafi’i tentang shalat: “Shalat itu tidak seperti ibadah yang lain, tidak dimulai shalat kecuali dengan dzikir”. Syaikhul Islam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah telah menjelaskan dalam Zaadul Ma’ad bahwa mereka ini telah salah dalam memahami perkataan Imam Syafi’i tersebut. Bukanlah yang dimaksud ‘dzikir’ itu adalah lafadz niat, melainkan takbiratul ihram. Hal ini juga dikuatkan dengan beberapa hal:

  • Imam Syafi’i adalah imamul mahzab yang paling wara’(hati-hati). Maka mustahil beliau memerintahkan hal yang tidak pernah diperintahkan Rasulullah. Karena sama sekali tidak ada hadist yang memeirntahkan melafadzkan niat.
  • Lafadz niat yang beredar dimasyarakat sekarang ini, misalnya “Usholli….” “Nawaitu…” tidak ada asalnya, tidak diketahui dari siapa lafadz2 tersebut. Bukan dari Rasulullah, dan juga bukan dari Imam Syafi’i. Maka mustahil Imam Syafi’i memerintahkan melafadzkan niat namun beliau tidak mencontohkan lafadznya
  • Andaikan niat harus dilafadzkan, tentu akan menyulitkan orang untuk beribadah. Karena ibadah yang diajarkan dalam syariat ini sangat banyak jenisnya, maka akan banyak sekali lafadz-lafadz niat yang harus dihafalkan. Padahal mereka mengatakan tidak sah bila tidak dilafadzkan. Apakah orang akan meninggalkan ibadah hanya karena tidak hafal niatnya?
  • Orang-orang yang melafadzkan niat seharusnya konsisten melafadzkan niat pada setiap ibadah. Namun nyatanya mereka tidak konsisten, pada suatu ibadah mereka melafadzkan niat, pada ibadah yang lain tidak. Misalnya, saat sholat dilafadzkan, namun saat hendak membaca Qur’an tidak dilafadzkan.

Maka jelaslah bahwa niat itu amalan hati, tidak perlu dilafadzkan, cukup dicamkan dalam hati, ditetapkan, diazzamkan.

Pentingnya ikhlas
Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais. Padahal hijrah pada masa itu adalah ibadah yang sangat besar pahalanya. Maka hadist ini menunjukkan orang yang tidak ikhlas dalam ibadahnya, dalam perbuatan baiknya, dalam amal-amalnya maka ia tidak akan mendapatkan pahala darinya. Maka hendaknya setiap orang memperhatikan kembali hatinya, dan mempertanyakan kembali keikhlasannya dalam beribadah.

Ikhlas secara bahasa artinya murni. Namun secara syariat ikhlas berarti mentauhidkan Allah dalam ketaatan. Artinya seorang yang beramal hanya menyerahkan wajahnya kepada Allah semata. Maka seorang yang ikhlas tidaklah mencari pujian atau tidak merasa ingin diliat oleh manusia, karena ia meyakin bahwa ia sedang menyerahkan amalnya kepada Allah seolah-olah Allah berada dihadapannya, sebagaimana Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda tentang ihsan:
Hendaknya engkau beridabah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Maka jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu” (HR. Muslim)
Lawan dari ikhlas adalah riya, yaitu melakukan suatu perbuatan bukan karena Allah. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah mewasiatkan kita dari penyakit ini:
“Sesungguhnya yang kau khawatirkan atas diri kalian adalah syirik kecil, yaitu riya” (HR. Ahmad, Shahih)
Hadist di atas beliau sampaikan kepada para sahabat rahimahumullahu ajma’in. Bila para sahabat saja yang sebaik-baik ummat masih dikhawatirkan terjerumus riya, bagaimana dengan kita yang dhoif ini? Maka tentu sungguh mengherankan bila ada orang yang jarang memeriksa hatinya, memeriksa keikhlasannya, dan tidak khawatir terjerumus kepada riya. Bahkan sebagian kita justru menceritakan dan membiarkan kebaikan-kebaikan yang diamalkannya diketahui orang banyak.

Seorang tabi’in, Salamah bin Dinar mengatakan: “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu”. Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani berkata bahwa penerapan dari hal ini sunguh sangatlah sulit. Sufyan Ats Tsauri juga menyatakan: “Tidak ada hal yang lebih sulit bagi diriku melainkan adalah memperbaiki niat”. Karena sungguh niat itu udah berubah-ubah.

Maka ikhwan fillah, mari kembali kita perhatikan niat kita dalam setiap amalan-amalan kita. Sungguh banyak dari kita sering membuang-buang waktu untuk hal-hal tidak berguna, bersantai-santai, bermain-main, senda-gurau, dan hanya sedikit sekali amal kebaikan yang kita lakukan. Dari yang sedikit itu pun, sangat sedikit sekali amalan yang benar-benar ikhlas ditujukan hanya untuk Allah Ta’ala. Bahkan bisa jadi amalan kita selama ini dari kecil hingga sekarang tidak ada yang ikhlas sama sekali. Maka apakah kita merasa aman dari azab Allah?

Wallahu’alam.

Maraji’:
Syarah Arbain Nawawi, Ibnu Daqieq Al’Ied
Zaadul Ma’ad, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah
Rekaman syarah hadist arbain no.1, Ust. Firanda Andirja

Tidak ada komentar: